30 Oktober 2007

PIRAMIDA KUNO DI DASAR LAUT JEPANG

Selama ini, orang menganggap piramida hanya terdapat di Mesir. Padahal di berbagai wilayah lainnya di dunia juga secara berturut-turut telah ditemukan piramida zaman prasejarah. Seperti misalnya peradaban bangsa Maya di Amerika Selatan, peradaban bangsa Yunani di Eropa, wilayah Asia dan lain-lain, telah ditemukan piramida yang bentuk dan besar kecilnya tidak sama. Artikel ini memperkenalkan sebagian piramida yang ditemukan di Jepang, piramida-piramida ini sepertinya tidak ada hubungan apa pun dengan bangsa Jepang modern, mungkin dibuat oleh manusia prasejarah yang jauh sebelum adanya sejarah.

Sejak tahun 1950-an, di berbagai wilayah Jepang secara berturut-turut telah ditemukan peninggalan piramida dalam jumlah besar dan bangunan batu raksasa, dari masa sejarah yang sangat lama, di antaranya beberapa piramida karena permukaannya tertutup oleh debu dan tanah, serta dipenuhi dengan berbagai macam tumbuh-tumbuhan, bagian luar tampak seperti sebuah gunung yang tinggi. Orang Jepang Jiujing Shengjun bahkan menemukan adanya hubungan tertentu antara bangsa Jepang dengan bangsa Yahudi pada zaman dahulu.

Tidak hanya demikian, pada tahun-tahun terakhir ini di dasar laut lepas pantai Jepang telah ditemukan banyak sekali peninggalan peradaban zaman purbakala. Sejak Maret 1995, penyelam menemukan 8 tempat peninggalan yang tersebar di sekitar Hiroshima hingga lautan Pulau Yonaguni. Tempat peninggalan pertama adalah sebuah konstruksi persegi empat yang sangat menarik, namun tidak begitu jelas dan ditutupi oleh karang sehingga bagian buatan manusianya tidak bisa dipastikan. Setelah itu, seorang atlet penyelam di musim panas tahun 1996 di luar dugaan menemukan sebuah teras beruncing raksasa di kedalaman 40 kaki di bawah permukaan laut Oklahoma Selatan, dipastikan merupakan hasil buatan manusia. Dan melalui pencarian lebih lanjut, tim penyelam lainnya menemukan lagi sebuah monumen lain dan lebih banyak lagi bangunan buatan manusia. Mereka mendapati jalan yang panjang dan luas, tangga dan pintu lengkung yang tinggi dan megah, serta batu raksasa yang dipotong dengan sempurna. Semua ini dipersatukan selaras dengan gaya bangunan berbentuk garis lurus yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Dalam beberapa bulan selanjutnya, kalangan arkeologi Jepang ikut serta dalam penggalian yang membangkitkan semangat ini. Tidak lama kemudian, mereka menemukan lagi sebuah konstruksi yang berbentuk piramida yang sangat besar di kedalaman 100 kaki di bawah permukaan laut tidak jauh dari pegunungan Sinaguni yang berjarak 300 mil dari Hiroshima. Benda raksasa ini terletak di sebuah kawasan luas yang kelihatannya digunakan untuk penyelenggaraan upacara, pada kedua sisinya terdapat pintu menara raksasa, bangunan ini panjang 240 kaki, lebar 600 kaki, dan tinggi 90 kaki, dan sejarahnya dapat dilacak kembali minimal 8.000 tahun SM.

Oleh karena visibilitas normal adalah 100 kaki di bawah permukaan laut, maka tingkat kejernihan pandang peninggalan ini cukup untuk pengambilan foto dan rekaman video. Gambar-gambar tersebut muncul dalam berita utama di koran-koran Jepang melebihi satu tahun lamanya, arkeolog berpendapat, bahwa ini mungkin adalah sebuah bukti awal adanya peradaban zaman batu yang masih belum diketahui orang.

Ahli geologi, Profesor Masaki Kimura dari Universitas Hiroshima, yang pertama-tama mengadakan penelitian ini dan mengambil kesimpulan bahwa bangunan yang mempunyai lima tingkat konstruksi ini adalah buatan manusia. Dia mengatakan: “Bahwa bangunan ini bukan benda hasil alamiah. Jika hasil alamiah, seharusnya pecahan yang terbentuk melalui korosi bertumpuk di atasnya, namun tidak ditemukan pecahan batu seperti ini.” Dia menambahkan, “bahwa sekeliling bangunan terdapat suatu yang mirip jalanan, dan ini semakin membuktikan bahwa ia adalah buatan manusia.

Profesor ilmu geologi Universitas Boston Robert Sketche menyelam dan memeriksa bangunan tersebut. Dia mengatakan, “Jika diamati, bangunan itu seperti serentetan tangga raksasa, setiap tangga tingginya kurang lebih 1 meter. Esensial penampang bangunannya mirip dengan piramida model tangga. Ini merupakan sebuah struktur yang sangat menarik. Pengikisan air yang alami ditambah lagi dengan proses perpecahan batu berkemungkinan menghasilkan struktur seperti ini, namun kami masih belum menemukan proses yang bagaimana dapat menghasilkan penampang tangga yang begitu tajam.”

Bukti selanjutnya yang dapat membuktikan bahwa bangunan tersebut adalah buatan manusia adalah beberapa tumpukan kecil dari batu yang ditemukan di sekitarnya. Mirip dengan bangunan utama, piramida-piramida mini ini dibentuk dari batu hampar berbentuk tangga yang disatukan, lebarnya 10 meter dan tinggi 2 meter.

Profesor Kimura berpendapat, bahwa masih terlalu pagi jika ingin mengetahui siapa yang telah membuat monumen tersebut atau apa tujuannya. Dia mengatakan, “Bangunan ini mungkin adalah sebuah istana dewa dari agama zaman dahulu, digunakan untuk memuja-muji dewa tertentu, sama seperti penduduk Hiroshima yang percaya pada dewa Nirai-Kanai yang dapat mendatangkan kesejahteraan dari laut kepada mereka. Oleh karena berdasarkan catatan, 10 ribu tahun lampau tidak ada manusia yang mampu membuat monumen seperti ini, maka ini mungkin adalah sebuah bukti peradaban manusia yang tidak diketahui orang.”

“Hanya manusia yang memiliki teknologi tingkat tinggi baru mampu menyelesaikan proyek seperti ini, dan sangat mungkin berasal dari daratan Asia yang mengandung peradaban manusia paling kuno. Bangunan yang demikian raksasa harus menggunakan mesin tertentu baru dapat menyelesaikannya,” lanjut Profesor Kimura.

Masa peradaban Jepang sekarang ini berawal dari zaman batu baru sekitar tahun 9000 SM. Penghidupan orang-orang pada zaman itu adalah berburu dan mengumpulkan makanan. Tidak mungkin ada teknologi maju untuk membuat bangunan seperti piramida raksasa tersebut. Dapat disimpulkan bahwa sebelum peradaban Jepang kali ini, di kawasan Jepang ini, pernah ada peradaban manusia yang sangat maju, dan ia dengan bangsa Jepang sekarang tidak mempunyai hubungan apa pun.

(Dari: Dajiyuan)

Foto-foto lain:
































MONSTER DANAU TIANCHI

Di berbagai belahan dunia selalu ada misteri yang abadi. Di Skotlandia misalnya, cerita Loch Ness begitu membuat penasaran, tidak hanya masyarakat awam tetapi juga ilmuwan. Namun, apa yang dilegendakan lebih dari seratus tahun itu sampai sekarang tidak pernah bisa dikonfirmasikan.

Begitu pula halnya dengan monster di Danau Tianchi. Pertengahan Juli lalu para penduduk melapor telah melihatnya di danau yang terletak di perbatasan Cina dengan Korea Utara. "Ada sekelompok makhluk misterius berenang menyeberangi danau dekat Gunung Changbai," demikian laporan kader pemerintah lokal seperti yang dikutip Beijing Youth Daily.

Wakil Direktur Biro Kehutanan Provinsi setempat Zhang Lufeng bahkan menyatakan, selama 50 menit monster-monster tersebut muncul hingga lima kali. "Awalnya hanya terlihat satu. Kemudian muncul beberapa. Akhirnya ada 20 makhluk berenang bersama," tambahnya.

Menurut Zhang, makhluk-makhluk itu terlihat pada jarak 2-3 km dari pinggir danau sehingga yang tampak hanyalah titik-titik hitam atau putih. Namun, dari riak air yang dilewatinya penduduk menyimpulkan mereka adalah makhluk hidup.

Tahun 1903, menurut catatan pemerintah lokal, makhluk hidup sebesar kerbau tiba-tiba keluar dari air dan menyerang tiga orang yang tengah berenang. Monster itu menjerit panjang ketika ditembak dan menghilang kembali ke dalam danau.

Dokumen penampakan makhluk itu yang lebih baru menyebutkan bahwa monster punya mata amat besar, mulut yang menonjol, dan leher yang amat panjang: 1,2-1,5 meter. Lingkaran putih memisahkan leher dengan badannya yang besar dan berkulit keabu-abuan.

Gambaran ini mirip dengan elasmosaurus, reptil laut yang hidup pada akhir periode Cretaceous dan diperkirakan musnah 65 juta tahun lalu. Meski badannya besar dan punya nama yang mirip-mirip, Elasmosaurus adalah reptil bukan dinosaurus.

Elasmosaurus hidup di laut lepas, namun mengambil oksigen dari udara. Mereka makan ikan dan binatang berenang lainnya dengan menggunakan rahangnya yang kuat dan giginya yang tajam. Pada beberapa fosil elasmosaurus ditemukan batu di dalam perutnya. Bisa jadi ini untuk membantunya mencernakan makanan, sebagai penyeimbang, atau malah untuk membantu mereka menyelam.

Mungkinkah elasmosaurus ini si makhluk misterius? Tampaknya terlalu dini untuk memastikannya.

(Dari: Reuters)


BATU KUNO DI PERU: MANUSIA PERNAH HIDUP BERSAMA DINOSAURUS

Di dataran utara Nasca, Peru, terdapat sebuah desa bernama ICA yang memiliki sebuah museum batu. Di dalam museum tersebut terpajang lebih dari 10.000 batu misterius yang terukir aneka gambar, sejumlah besar gambar yang sulit dipercaya, yang tercatat adalah sebuah peradaban manusia purbakala yang sangat maju yang telah musnah, gambar-gambar batu ini disebut prasasti batu ICA.

Menurut laporan media setempat, batuan-batuan yang terukir gambar yang disimpan di museum tersebut mulai ditemukan dalam skala besar ketika bendungan di Sungai ICA jebol. Gambar yang terukir di atas batu tersebut antara lain galaksi angkasa, binatang purbakala, daratan prasejarah, bencana dahsyat zaman dulu dan beberapa goresan kategori lain.

Menurut prediksi batu-batu langka yang dikumpulkan ini mungkin sudah ribuan tahun sejarahnya. Ahli terkait telah mengadakan tes kimia pada batu tersebut, dan hasilnya menunjukkan, bahwa batu-batu tersebut berasal dari sungai setempat dan merupakan batu Gunung Andes, permukaannya ditutupi dengan selapisan oksida. Setelah ditentukan dengan bahan-bahan oleh ilmuwan Jerman disimpulkan bahwa bekas ukiran di atas batu tersebut sudah sangat lama sejarahnya, dan batu yang ditemukan disekitar gua, terdapat fosil organisme jutaan tahun silam.

Oleh ilmuwan, manusia-manusia purbakala pada batu ukiran tersebut dinamakan “bangsa geological”, ditilik dari gambar batu ukiran tersebut, mereka memiliki peradaban yang sangat maju. Di atas batu ukiran tersebut dilukiskan tentang operasi transplantasi organ, transfusi darah, teleskop, peralatan medis, manusia yang mengejar dinosaurus dan lain-lain pemandangan yang sulit dijelaskan secara ilmiah oleh ilmu pengetahuan modern.

Dalam gambar batu-batu ini, orang-orang bisa melihat secara jelas suasana kehidupan manusia bersama dengan dinosaurus dan ditilik dari gambar tersebut, perbandingan postur dinosaurus dengan manusia yang dilukiskan tidak berbeda jauh, dinosaurus bagaikan hewan piaraan, atau mungkin binatang yang dijinakkan orang-orang kala itu. Menurut ilmuwan, bahwa dinosaurus sudah punah sejak ratusan juta tahun silam, namun yang membingungkan adalah bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan raksasa dinosaurus?

Ada sebuah batu yang dipahat dengan seekor Triceratops. Tampang dinosaurus ini sangat mirip dengan badak, namanya diambil dari 3 buah tanduk di kepalanya, seorang manusia menunggang di atas punggung Triceratops, tangannya menggengam senjata seperti kampak. Dan pada batu lainnya, tampak seorang manusia tengah menunggang di atas punggung dinosaurus. Selain itu, di atas sebuah batu terukir sebuah gambar, seorang manusia yang panik tampak dikejar oleh Tyrannosaurus Rex.

Selain itu, menurut penuturan pemiliknya yakni Dr. Javier Cabrera, bangsa geological tahu bahwa di galaksi yang jauh terdapat kehidupan taraf tinggi, mereka memiliki teknologi angkasa yang hebat, tidak perlu memakai sumber energi yang dikenal manusia modern, tapi bisa melakukan perjalanan antar planet.

Di museum tersebut, ada beberapa gambar yang melukiskan bumi pada 13 juta tahun silam yang tampak dari angkasa. Ada 4 buah gambar pada ukiran tersebut persis seperti peta dunia, dan menurut sejumlah ahli, daratan yang dilukiskan pada peta-peta tersebut adalah daratan purbakala yang hingga sekarang masih merupakan misteri yakni daratan Atlantis, dalam dokumen kuno yang ditemukan juga ada gambaran tentang daratan purbakala yang tenggelam. Setelah ditentukan dengan bahan-bahan oleh ahli geologi terbukti, bahwa ke empat batu tersebut memang benar merupakan peta dunia pada 13 juta tahun silam, bahkan sangat tepat dan akurat.

Di tilik dari gambar batu ukiran tersebut, bangsa geological menguasai teknologi medis yang tinggi, misalnya transplantasi otak besar, serta bagaimana cara mengatasi reaksi penolakan organ dalam proses transplantasi, dan penerapan teknologi-teknologi ini baru mulai dalam ilmu kedokteran modern. Salah satu gambar yang terukir dalam batu melukiskan pemisahan dan pengambilan benda berbentuk gelembung dalam lingkaran janin ibu hamil, dan menginjeksinya ke dalam tubuh pasien yang menanti transplantasi.

Pada batu ukiran tersebut juga dilukiskan tentang teknologi pembiusan dengan akuputur dalam operasi kedokteran. juga ada batu-batu yang mengukir gambar tentang gen genetika.

Yang lebih unik lagi, sejumlah gambar pada batu ukiran tersebut sama dengan gambar raksasa di dataran Nasca, ribuan bentuk dari potongan batu koral ini karya siapa, dan apa artinya, hingga sekarang masih merupakan misteri, namun, apakah garis atau bentuk batu-batu tersebut ada hubungannya dengan ukiran batu ICA, belum dapat di buktikan.

Lihat:
- GLIPTOLITHIC PERU

KUCING BERMATA SATU


Kelainan yang disebut Holoprosencephaly menyebabkan perubahan struktur pada muka. Salah satu kasusnya adalah kelahiran seekor kucing bermata satu di Redmond AS. Mata satunya terdapat di titik yang seharusnya adalah hidung. Namanya Cy, kependekan dari Cyclops. Lahir pada 28 Desember 2005, dan mati di hari berikutnya. Jasad kucing malang yang juga tanpa hidung ini sekarang diawetkan di mesin pendingin oleh pemiliknya.

29 Oktober 2007

MELACAK JEJAK KEHIDUPAN DI MARS

Planet kembaran Bumi, Mars, tak henti-hentinya memberikan “kejutan” kepada para ahli. Tim peneliti dari Mars Global Surveyor (MGS), pesawat NASA yang diluncurkan pada tahun 1996 dan mengorbit Mars sejak 2 September 1997, berhasil menemukan jejak air yang baru terbentuk kurang dari delapan tahun lalu. Jejak air ini memberikan petunjuk kemungkinan masih adanya kehidupan di bawah permukaan tanah Mars.

Upaya mencari bukti kehidupan di luar Bumi, yakni di Mars dan anggota tata surya lainnya dan bahkan makhluk cerdas di luar tata surya, hingga kini belum juga menuai hasil. Namun, ketiadaan bukti itu tidak menyurutkan semangat para ahli untuk tetap mencari. Bukti kehidupan itu, jika nanti ditemukan, tentu akan membuat heboh dunia: Bumi bukan satu-satunya benda langit yang dihuni makhluk hidup. Sebaliknya, bila nanti ternyata bukti tidak kunjung ditemukan, itu pun bermakna penting: planet Bumi memang sangat istimewa di galaksi kita (Bima Sakti)

Untuk memburu kehidupan di tata surya, diluncurkan sejumlah pesawat pengorbit dan robot pendarat Mars. Tujuannya, mempelajari kondisi atmosfer Mars, permukaannya, sejarah geologi serta komposisi kimia tanah dan batuan Mars. Pesawat paling canggih yang mengorbit Mars tahun lalu dan mulai mengirimkan foto-foto spektakuler adalah Mars Reconnaissance Orbiter (MRO). Begitu tajamnya foto-foto dari MRO, ia mampu mengenali pesawat pendarat serta jejak lintasan rover Opportunity dan Spirit yang menjelajah permukaan Mars.

Namun, “kejutan” baru yang berkaitan dengan jejak air di Mars bukan datang dari MRO, tetapi justru dari pesawat Mars Global Surveyor (MGS) yang sudah mengorbit Mars sembilan tahun lebih. Kunci penemuan jejak air di Mars adalah pemetaan seluruh permukaan Mars secara rinci hingga ketelitian 1,5 meter dan dilakukan berulang-ulang. “Observasi tersebut merupakan bukti paling kuat saat ini bahwa air masih mengalir sewaktu-waktu di permukaan Mars dalam beberapa tahun terakhir”, kata Michael Meyer, ilmuwan senior pada Program Eksplorasi Mars, NASA.

Jejak kehidupan
Air adalah sumber kehidupan. Tanpa adanya air kemungkinan besar tak akan pernah ada kehidupan di Bumi. Tabrakan komet-komet dengan Bumi di masa lampau adalah bagian penting dari evolusi Bumi dan dipercayai telah mengubah Bumi yang gersang menjadi planet yang berlimpah air. Kita mengetahui permukaan lautan lebih luas dibandingkan daratan. Planet-planet lain di tata surya, termasuk Mars, diduga kuat juga mendapat serangan komet-komet dan asteroid jauh di masa silam. Contoh terkini adalah tabrakan komet Shoemaker-Levy 9 dengan Jupiter yang sangat spektakuler itu. Keberadaan kawah-kawah di Mars, Merkurius, serta Bulan, merupakan bukti terjadinya tumbukan-tumbukan tersebut.

Dari seluruh benda langit di tata surya, Mars paling mirip Bumi meski kondisinya masih terlalu ekstrem bagi makhluk hidup (termasuk manusia) untuk tinggal di sana. Ditemukannya kanal-kanal atau lembah-lembah raksasa di permukaan Mars memberikan petunjuk keberadaan air yang melimpah di masa lalu. Anehnya, mengapa saat ini genangan air ataupun air yang mengalir tidak ditemukan di permukaan Mars seperti di Bumi? Dengan asumsi bahwa komet-komet dulu pernah membombardir Mars, kemana hilangnya air dari permukaan Mars? Apakah air itu meresap ke dalam tanah dan batuan Mars?

Pencarian kehidupan sederhana di planet Mars diawali oleh pendaratan pesawat Viking 1 dan 2 pada tahun 1976. Meski sudah melakukan analisis tanah Mars, ternyata pesawat yang mendarat di dua tempat berbeda itu tidak menemukan tanda-tanda adanya kehidupan sederhana. Juga, tidak ditemukan jejak air di sekitar tempat pendaratan. Meski demikian, pesawat Viking telah memberikan data-data penting tentang kondisi permukaan serta cuaca dan iklim di tempat pendaratan yang menjadi acuan bagi misi-misi berikutnya.

Temuan baru
Penemuan adanya pola saluran (gully) menyerupai bekas aliran di lereng-lereng bukit atau kawah pada kawasan lintang menengah dan tinggi Mars telah diumumkan tim MGS sejak Juni 2000. Mars Global Surveyor (MGS) membawa tiga kamera, yaitu kamera dengan resolusi 1,5 meter per piksel, 240 meter per piksel, dan 7,5 kilometer per piksel. MGS berhasil mengumpulkan lebih dari 240.000 foto Mars. Sayangnya, MGS tidak mengirimkan sinyal ke Bumi sejak 2 November 2006.

Warna pola aliran itu lebih gelap dari sekitarnya. Ini lebih menyerupai bekas aliran debu atau pasir halus (bukan air) yang mengalir di lereng-lereng karena terpaan angin. Ada puluhan ribu pola aliran serupa ditemukan oleh pesawat pengorbit Mars Global Surveyor (MGS), Mars Express milik ESA serta pesawat terbaru Mars Reconnaissance Orbiter (MRO). Melalui analisis data, tim peneliti MGS menemukan bukti adanya jejak aliran air yang relatif baru terbentuk di dua tempat terpisah, yaitu di lereng sebuah kawah tak bernama di kawasan Terra Sirenum dan Centauri Montes. Berbeda dengan gully pada umumnya yang tampak lebih gelap dari sekitarnya, jejak aliran air ini tampak lebih terang.

Kawasan Centauri Montes terletak pada 38,7 derajat Lintang Selatan (LS) dan 263,3 derajat bujur. Gully atau pola saluran berada pada lereng kawah pada sisi yang menghadap ke arah ekuator Mars. Pola aliran air di Centauri Montes dikenali pertama kali oleh tim dari MGS dari foto yang diambil pada 10 September 2005. Pengecekan terhadap foto daerah yang sama dan diambil pada 21 Februari 2004 memperlihatkan masih adanya pola aliran tersebut. Pencarian data menemukan foto lokasi yang sama dipotret pada 20 Agustus 1999. Ternyata, pola aliran air saat itu belum ada. Ini berarti bahwa pola aliran air di Centauri Montes terbentuk setelah 20 Agustus 1999 dan sebelum 21 Februari 2004.

Penemuan pola aliran air lainnya yaitu di lereng kawah di kawasan Terra Sirenum (36,6 derajat Lintang Selatan dan 161,8 Bujur Barat). Kamera MGS mengambil foto daerah ini pada 26 Agustus dan 25 September 2005. Setelah ditelusuri ke belakang, ternyata foto yang diambil pada 22 Desember 2001 tidak memperlihatkan adanya pola aliran itu.

Rencana ke depan
Pola aliran air di lereng kawah di Terra Sirenum dan Centauri Montes itu menunjukkan bahwa di bawah permukaan Mars saat ini masih tersimpan air berbentuk cair (bukan es) atau air yang meresap pada batuan dengan kondisi berlebihan atau saturasi. Karena di bawah permukaan Mars suhunya lebih hangat dibandingkan di permukaan maka air tidak membeku. Karena suatu hal, misalnya pergerakan dalam tanah atau batuan, maka air itu terdorong keluar ke tempat-tempat yang miring (lereng-lereng bukit atau kawah) dan memunculkan aliran air.

Temuan ini sangat penting dan perlu dikonfirmasi. Radar pada pesawat Mars Express, yaitu Mars Advanced Radar for Subsurface and Ionosphere Sounding bisa mendeteksi kandungan air di bawah tanah yang tidak terlalu dalam. Selain itu, instrumen MRO yang lebih canggih, Mars Shallow Subsurface Radar, juga diharapkan dapat mendeteksi keberadaan air di bawah permukaan Mars.

Penemuan aliran air memberikan harapan baru kemungkinan ditemukannya kehidupan sederhana di bawah permukaan Mars. Temuan itu tentu akan menjadi pertimbangan dalam merencanakan misi-misi pendaratan di planet Mars, baik jenis instrumen yang akan dibawa maupun penentuan lokasi pendaratan.

(Dari: Pikiran Rakyat / Penulis: Bachtiar Anwar)

28 Oktober 2007

DESA PURBA STONEHENGE

Stonehenge pernah dianggap sebagai tempat pendaratan extraterrestrial, bahkan beberapa orang mengaku melihat UFO di tempat itu. Situs yang dianggap tempat keramat bagi penganut agama Celtic kuno itu konon dibangun oleh penyihir Merlin, yang memindahkannya secara gaib dari Gunung Killaraus di Irlandia. Ada pula yang percaya bangunan itu adalah buatan setan.

Namun, penemuan sejumlah arkeolog Inggris belum lama ini menunjukkan bangunan misterius yang dinominasikan menjadi tujuh keajaiban dunia baru itu dibangun oleh sekelompok orang yang tinggal di dekat situs tersebut.

Para arkeolog itu menemukan satu kampung yang hanya terdiri atas beberapa rumah kecil dan kemungkinan merupakan tempat tinggal para kuli bangunan yang mendirikan monumen megalitik terbesar di Inggris Selatan itu. Mereka menemukan perkampungan ini ketika tengah mempelajari Stonehenge.

Penggalian di dekat Dataran Salisbury itu menemukan delapan buah rumah, dengan perapian di tengah rumah. Mike Parker Pearson, ilmuwan dari Sheffield University, Inggris, memperkirakan masih ada 25 rumah lainnya yang terpendam setelah menggunakan perlengkapan survei geofisika.

Perumahan kuno itu terletak di sebuah situs yang disebut Dinding Durrington, hampir 3,2 kilometer dari Stonehenge. Di sana juga terdapat versi kayu dari lingkaran batu Stonehenge.

Penghitungan waktu karbon menunjukkan kampung itu berasal dari 2600 sebelum Masehi, hampir bersamaan dengan periode pembangunan Stonehenge. Parker Pearson menyatakan Piramida Giza di Mesir juga dibangun pada masa yang sama.

Namun, sejumlah arkeolog meragukan usia situs itu karena Stonehenge telah beberapa kali direnovasi. Materi arkeologi itu pernah digali dan dipendam lagi dalam berbagai riset, sehingga sulit menentukan kapan konstruksi aslinya dibangun.

Parker Pearson dan tim risetnya yakin adanya kaitan antara desa di Durrington dan Stonehenge. Julian Thomas, arkeolog dari Manchester University, menyatakan, baik Stonehenge maupun Dinding Durrington memiliki jalan raya yang menghubungkan keduanya ke Sungai Avon. Hal ini mengindikasikan adanya pola pergerakan antara kedua situs. "Menunjukkan tempat itu memiliki arti yang amat penting," kata Thomas.

Para ilmuwan memperkirakan Dinding Durrington adalah tempat pemukiman dan Stonehenge adalah kuburan serta semacam tugu peringatan karena di situ ditemukan sisa jenazah yang dibakar.

Arkeolog menduga perkampungan yang cukup besar itu didiami secara musiman, sebagai lokasi pesta ritual dan upacara pemakaman. Mereka percaya Stonehenge dan Durrington membentuk kompleks religius yang dipakai untuk ritual pemakaman. Pada masa itu, kampung itu ada kemungkinan dihuni ratusan orang yang menjadikannya sebagai desa Neolitikum terbesar yang pernah ditemukan di Inggris.

Rumah-rumah kayu yang ditemukan di situs baru itu berbentuk kubus dan setiap sisi panjangnya 5 meter, terbuat dari kayu dan berlantai tanah liat. Bentuk rumah itu hampir identik dengan rumah batu yang dibangun di Skara Brae, Kepulauan Orkney lepas pantai Skotlandia.

Mereka juga menemukan indikasi pola penataan ruang, yaitu kerangka tempat tidur diletakkan sepanjang sisi dinding dan sebuah lemari atau tempat penyimpanan ditaruh di dinding yang berhadapan dengan pintu. "Di bekas rumah, kami menggali kerangka lantai kotak tempat tidur dan lemari pakaian atau lemari makan," ujar Parker Pearson.

Peralatan dari batu, tulang binatang, mata panah, dan artefak lainnya juga ditemukan di desa purba itu. "Inilah situs terkaya yang penuh dengan sampah dari periode itu di Inggris," kata Pearson. "Kami tidak pernah melihat begitu banyak pecah belah, tulang binatang, dan batu api."

Tulang binatang yang ditemukan di rumah itu adalah sisa pesta di pertengahan musim dingin. Orang-orang dari berbagai wilayah mendatangi kampung itu untuk makan besar dan tulang-tulangnya dibuang ke lantai. "Sampahnya bukanlah sampah rumah tangga biasa," ujarnya. "Tidak ada perlengkapan untuk membersihkan kulit binatang dan tak ada bukti pemrosesan hasil panen. Tulang yang masih separuh dimakan sudah dibuang, suatu kebiasaan pesta besar."

Sisa tulang babi yang ditemukan menunjukkan binatang itu baru berusia sembilan bulan ketika disembelih, yang kemungkinan besar menandai dilaksanakannya festival pertengahan musim dingin.

Batu gantung Stonehenge memang diorientasikan menghadap ke arah matahari terbit pertengahan musim panas dan matahari terbenam di pertengahan musim dingin. Sedangkan lingkaran kayu di Dinding Durrington menghadap ke arah sebaliknya, yaitu matahari terbit pertengahan musim dingin dan matahari terbenam musim panas.

Dua dari kelompok rumah itu terpisah dari rumah lainnya dan mungkin merupakan kediaman para pemimpin komunitas itu. Atau, rumah pemujaan yang dipakai untuk mengadakan ritual keagamaan. Di rumah temuan Thomas itu tak banyak dijumpai puing ataupun sampah rumah tangga seperti di rumah lainnya.

Temuan itu menunjukkan Durrington sebagai "tempat bagi orang yang hidup," kata Pearson. Sebaliknya, tak ada orang yang pernah tinggal di lingkaran batu di Stonehenge, makam terbesar di Inggris pada saat itu. Stonehenge diperkirakan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi 250 jenazah yang dikremasi.

(Dari Tempo Online)

Lihat:
- STONEHENGE

STONEHENGE

Stonehenge merupakan suatu bangunan yang dibangun pada zaman Perunggu dan Neolitikum. Ia terletak berdekatan dengan Amesbury di Wiltshire, Inggris, sekitar 13 kilometer (8 batu) barat laut Salisbury. Stonehenge mencakup bangunan tambak tanah yang mengelilingi batu besar berdiri tegak dalam bulatan, yang dikenal sebagai megalitikum. Terdapat pertikaian mengenai usia sebenarnya lingkaran batu itu, tetapi kebanyakan arkeolog memperkirakan bahwa sebagian besar bangunan Stonehenge dibuat antara 2500 SM sampai 2000 SM. Bundaran tambak tanah dan parit membentuk fase pembanguan monumen Stonehenge yang lebih awal yang berasal dari waktu sekitar 3100 SM.

Pada awal abad ke-20, kebanyakan batu-batu itu tidak lagi tegak berdiri. Hal ini kemungkinan disebabkan karena banyaknya wisatawan yang telah memanjat Stonehenge pada sekitar abad kesembilan belas disebabkan oleh sifat ingin tahu. Semenjak itu, telah dilakukan tiga tahap renovasi untuk menegakkan kembali batu yang miring atau terbalik, dan untuk mengembalikan batu-batu tersebut ke tempat semula yang telah dilakukan dengan teliti. Secara tidak langsung, ini berarti bentuk Stonehenge tidak lagi asli seperti asalnya seperti yang disebutkan dalam promosi pariwisata. Sebaliknya, sebagaimana peninggalan sejarah yang lain, tahap-tahap renovasi telah dilakukan.

Stonehenge merupakan nama yang diberikan kepada kelas peringatan yang dikenal sebagai henge yang terdiri dari kurungan lingkaran tambak dengan parit di dalam. Sebagaimana yang sering terjadi dalam istilah arkeologi ini merupakan istilah warisan dari pengunaan zaman kuno dan sepatutnya Stonehenge tidak boleh dikelompokkan sebagai henge sebenarnya disebabkan tambaknya berada di bagian sebelah dalam parit. Walaupun seusia dengan henges zaman Neolithikum yang menyerupai Stonehenge, Stonehenge mungkin memiliki keterkaitan dengan bulatan batu lain yang terdapat di British Isle seperti Cincin Brodgar namun ukuran trilitonnya sebagai contoh menjadikannya unik. Tempat ini dimasukkan dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1986.

Prasejarah
Kompleks Stonehenge dibangun dalam beberapa fase pembangunan selama 2.000 tahun dan sepanjang kurun waktu itu aktivitas terus berjalan. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya sesosok mayat seorang Saxon yang dipancung dan dikebumikan di tugu peringatan tersebut, dan kemungkinan mayat tersebut berasal dari abad ke-7 M.

Stonehenge I
Monumen pertama terdiri dari kurungan tebing bulat dan parit berukuran 115 meter (320 kaki) diameter dan dengan satu pintu masuk di bagian timur laut. Fase ini adalah sekitar 3100 SM. Di bagian luar kawasan kurungan terdapat 59 lubang, dikenal sebagai lubang Aubrey untuk memperingati John Aubrey, arkeolog abad ketujuh belas yang merupakan orang pertama yang mengenal lubang-lubang tersebut. Dua puluh lima dari lubang Aubrey diketahui mempunyai pemakaman abu bertanggal dua abad sesudah pembangunan Stonehenge. Tiga puluh abu mayat diletakkan di dalam parit kawasan kurungan dan bagian lain dalam kawasan Stonehenge. Tembikar Neolitikum Akhir telah ditemukan bersama-sama ini memberikan bukti tanggal. Sebuah batu tunggal monolit besar yang tidak dilicinkan dikenal sebagai 'Batu Tumit' (Heel Stone) terletak di luar pintu masuk.

Stonehenge II
Bukti fase kedua tidak lagi kelihatan. Bagaimanapun bukti dari beberapa lubang tiang dari waktu masa ini membuktikan terdapatnya beberapa bangunan kayu yang dibangun dalam kawasan lingkaran sekitar awal millennium ketiga SM. Beberapa kesan papan yang didapati diletakkan pada pintu masuk. Fase ini sama dengan tempat Woodhenge yang terletak berdekatan.

Stonehenge IIIa
Ekskavasi arkeologi menunjukkan bahwa sekitar 2600 SM, dua lengkungan bulan sabit dibuat dari lubang (dikenal sebagai lubang Q dan R) yang digali di tengah-tengan lokasi. Lubang tersebut mengandung 80 batu biru tegak yang dibawa dari bukit Preseli, 250 batu di Wales. Batu-batu tersebut dibentuk menjadi tiang dengan teliti, kebanyakan terdiri dari batu jenis dolerite bertanda tetapi turut termasuk contoh batu rhyolite, tufa gunung berapi, dan myolite dan seberat 4 ton.

Pintu masuk dilebarkan pada masa ini menjadikannya selaras dengan arah matahari naik pertengahan musim panas dan matahari terbenam pertengahan musim sejuk masa tersebut. Monumen tersebut ditinggalkan tanpa disiapkan, sementara batu biru kelihatannya dipindah dan lubang Q dan R ditutup. Ini kemungkinan dilakukan pada masa fase Stonehenge IIIb. Monumen ini kelihatannya melebihi tempat di Avebury dari segi kepentingannya pada akhir masa ini dan Amesbury Archer, dijumpai pada tahun 2002 tiga batu ke selatan, membayangkan bagaimana Stonehenge kelihatan pada masa ini. Stonehenge IIIa dikatakan dibangun oleh orang Beaker.

Stonehenge IIIb
Pada aktivitas fase berikutnya pada akhir millennium ketiga 74 SM mendapati batu Sarsen yang besar dibawa dari kueri 20 batu di utara di lokasi Marlborough Downs. Batu-batu tersebut dikemaskan dan dibentuk dengan sambungan pasak dan ruas sebelum 30 didirikan membentuk bulatan tiang batu berukuran 30 meter diameter dengan 29 atap batu (lintel) di atas. Setiap bongkah batu seberat 25 ton dan jelas dibentuk dengan tujuan mengagumkan jika siap.

Batu orthostat lebar sedikit di bagian atas agar memberikan gambaran ia kelihatan lurus dari bawah ke atas sementara batu alang melengkung sedikit untuk menyambung gambaran bundar monumen lebih awal.

Di dalam bulatan ini terletak lima trilithon batu sarsen diproses dan disusun dalam bentuk ladam. Batu besar ini, sepuluh menegak dan lima batu alang, dengan berat sehingga 50 tan setiap satu yang disambungkan dengan sambungan rumit. Ukiran pisau belati dan kepala kapak terdapat di sarsen. Dalam masa ini, jalan sepanjang 500 meter dibangun, menuju ke arah timur laut dari pintu masuk dan mengandung dua pasang tambak selaras yang berparit di tengahnya. Akhir sekali dua batu portal besar dipasangkan di pintu masuk yang kini hanya tinggal satu, Batu Penyembelihan (Slaughter Stone) 4,9 meter (16 kaki) panjang. Fase yang bercita-cita tinggi ini dipercayai hasil kerja kebudayaan Wessex Zaman Perunggu awal, sekitar 2000 SM.

Stonehenge IIIc
Selepasnya pada Zaman Perunggu, batu biru kelihatannya telah ditegakkan semula, dalam bulatan antara dua tiang sarsen dan juga dalam bentuk ladam ditengah, mengikuti tata rajah layout sarsen. Walaupun ia kelihatannya satu fasa kerja yang menakjubkan, pembinaan Stonehenge IIIc dibina kurang teliti berbanding Stonehenge IIIb, batu biru yang ditegakkan kelihatannya mempunyai pondasi yang tidak kokoh dan mulai tumbang. Salah satu dari batu yang tumbang telah diberi nama yang kurang tepat sebagai Batu Penyembahan (Altar Stone). Dua bulatan lubang juga digali di luar bulatan batu yang dikenal sebagai lubang Y dan Z. Lubang-lubang ini tidak pernah diisi dengan batu dan pembangunan lokasi peringatan ini kelihatannya terbiarkan sekitar 1500 SM.

Stonehenge IV
Sekitar 1100 SM, jalan raya (Avenue) disambung sejauh lebih dari dua batu sampai ke Sungai Avon walaupun tidak jelas siapakah yang terlibat dalam kerja pembangunan tambahan ini.

Teori mengenai Stonehenge
Usaha serius pertama untuk memahami monumen ini dilakukan sekitar 1740 oleh William Stukeley. Sebagaimana kecenderungannya, Stukeley silap menyatakan bahawa lokasi ini dibangun oleh Druid, tetapi sumbangannya yang paling penting adalah mengambil gambaran yang diukur mengenai lokasi Stonehenge yang membenarkan analisis yang lebih tepat tentang bentuk dan kepentingannya. Dari hasil kerja ini dia dapat menunjukkan bahwa henge dan batunya disusun dalam bentuk tertentu yang mempunyai kepentingan astronomi.

Aturan bagaimana batu biru diangkut dari Wales telah banyak didiskusikan dan berdasarkan pemikiran, batu itu mungkin merupakan sebagian dari batu awal di Pembrokeshire dan dibawa ke Dataran Salisbury (Salisbury Plain). Banyak arkeolog percaya bahwa Stonehenge merupakan percobaan mengekalkan dalam bentuk batu, bangunan papan yang bertaburan di Dataran Salisbury seperti Tembok Durrington.

Monumen ini diselaraskan timur laut - barat daya dan sering dicadangkan bahwa keutamaan diletakkan oleh pembangunnya pada titik balik matahari dan equinox agar sebagai contohnya, pada pertengahan pagi musim panas, matahari muncul tepat di puncak batu tumit (heel stone), dan cahaya pertama matahari pergi terus ke tengah Stonehenge antara dua susunan batu berbentuk ladam. Tidak mungkin aturan itu terjadi secara kebetulan. Matahari timbul pada arah berlainan pada permukaan geografi tempat berlainan. Untuk penyelarasan itu tepat, ia mesti diperkirakan tepat untuk garis lintang Stonehenge pada 51° 11'. Penyelarasan ini, tentunya dasar bagi reka dan bentuk dan tempat bagi Stonehenge. Alexander Thom berpendapat bahawa lokasi tersebut diatur menurut ukuran yar megalitikum.

Disebabkan ini, sebagian pendapat mendakwa bahwa Stonehenge melambangkan tempat observatorium kuno, walaupun berapa jauh penggunaan Stonehenge untuk tujuan tersebut dipertentangkan. Sebagian pendapat pula mengemukakan teori bahwa ia melambangkan palus besar[1], komputer atau juga lokasi pendaratan makhluk asing.

Banyak perkiraan mengenai pencapaian mesin diperlukan untuk membangun Stonehenge. Mengandaikan bahwa batu biru ini dibawa dari Wales dengan tenaga manusia dan bukannya oleh gletser sebagaimana didakwa oleh Aubrey Burl, pelbagai aturan untuk memindahkan mereka dengan menggunakan tali dan kayu telah dicadangkan. Dalam satu latihan arkeologi percobaan pada 2001, suatu percobaan untuk mengalihkan satu batu besar sepanjang jalan darat dan laut yang mungkin dari Wales ke Stonehenge. Sukarelawan menariknya di atas luncur (sledge ) kayu di daratan tetapi jika dipindahkan ke replika bot prasejarah, batu tersebut tenggelam di laut bergelora di Selat Bristol.

Ia telah dijangkakan bahwa kayu balak frame A ditegakkan untuk menegakkan batu dan dan satu pasukan kemudian menegakkannya dengan menggunakan tali. Batu alang mungkin diangkat secara berangsur-angsur dengan menggunakan bangku panjang kayu dan diluncurkan ke tempat sekarang. Sambungan menyerupai hasil kerja kayu membayangkan mereka mahir dengan kerja kayu dan mereka mudah mendapatkan pengetahuan untuk mendirikan monumen dengan menggunakan aturan seumpamanya.

Ukiran senjata pada sarsen adalah unik pada seni megalitikum di Kepulauan Britania (British Isles) di mana desain lebih abstrak lebih digemari, begitu juga dengan aturan batu berbentuk ladam kuda adalah luar biasa bagi kebudayaan yang selalunya mengatur batu dalam bentuk bundar. Motif sebegitu bagaimanapun biasa bagi penduduk Britania pada masa itu dan telah dicadangkan bahwa dua fase Stonehenge telah dibangun di bawah pengaruh tanah besar continental influence. Ini dapat menjelaskan pada satu tahap, tentang reka dan bentuk monumen, tetapi pada keseluruhannya, Stonehenge masih tidak dapat dijelaskan luar biasa dari sembarang konteks kebudayaan Eropa prasejarah.

Perkiraan mengenai tenaga manusia yang diperlukan untuk membangun pelbagai fase Stonehenge meletakkan jumlah keseluruhan yang terlibat atas berjuta jam manusia bekerja. Stonehenge I kemungkinan memerlukan sekitar 11.000 jam manusia, Stonehenge II sekitar 360.000 dan pelbagai bagian bagi Stonehenge III mungkin melibatkan sehingga 1.75 juta jam manusia. Membentuk batu-batu ini diperkirakan memerlukan 20 juta jam manusia menggunakan perkakas primitif yang terdapat pada masa itu. Pastinya ketetapan hati untuk menghasilkan monumen sedemikian amat kuat dan bolehlah dianggap organisasi kemasyarakatan yang maju diperlukan untuk membangun dan melestarikannya.

Sejarah baru
Stonehenge tetap menjadi tempat mengunjung bagi Neo-druid dan kepercayaan pagan baru atau neo-pagan, dan merupakan lokasi festival musik gratis yang diadakan di antara tahun 1972 sampai 1984. Bagaimanapun, pada tahun 1985 festival tersebut dilarang oleh pemerintah Inggris. Disebabkan ini, terjadi persengketaan ganas antara polisi dengan pelancong abad baru yang dikenal sebagai Pertempuran Beanfield.

Pada tahun-tahun terkini, kedudukan henge di Dataran Salisbury telah terpengaruh oleh jalan A303 berdekatan antara Amesbury dan Winterbourne Stoke, dan A344. Pada masa lalu beberapa proyek, termasuk terowongan gali-dan-tutup telah dicadangkan untuk tapak tersebut, dan English Heritage dan National Trust telah lama berjuang untuk memindahkan jalan dari lokasi tersebut. Pada awal 2003 Departemen Perhubungan mengumumkan beberapa perluasan jalan utama, termasuk A303. Pada 5 Juni Highway Agency menerbitkan draft singkat pelan untuk lencungan jalan 13 kilometer (8 batu) di Stonehenge, termasuk terowongan sepanjang 2 kilometer meletakkan A303 di bawah jalan sekarang. Pada 4 September 2003 Highway Agency mengumumkan diskusi terbuka, dibuka pada 17 September yang akan menimbangkan samaada pelan ini mencukupi untuk tempat itu. Banyak organisasi mencadangkan terowongan yang lebih panjang, yang akan melindungi kawasan arkeologi dan desa sekeliling yang lebih luas. Pelan untuk tempat tersebut termasuk pusat warisan baru, yang akan dibuka pada 2006. Pada 2008, skema jalan baru akan siap dan jalan lama akan ditutup.

Mitos dan legenda
Batu Tumit (The Heel Stone) pada suatu masa dikenal sebagai Friar's Heel. Cerita rakyat, yang tidak dapat dipastikan asalnya lebih awal dari abad ke tujuh belas, menceritakan asal nama batu ini.
Seekor jembalang telah membawa batu ini dari wanita di Irlandia, membalutnya, dan membawanya ke dataran Salisbury. Salah satu dari batu tersebut jatuh ke dalam Sungai Avon, bakinya dibawa ke dataran. Jembalang tersebut kemudian menjerit, "Tak seorang pun akan tahu bagaimana batu ini di bawa ke sini." Seorang pendeta menjawab, "Itu yang kaupikirkan!" Dengan itu jembalang tersebut melontarkan batu kepadanya dan mengenai tumitnya. Batu tersebut tersebut melekat di tanah dan tetap di situ.

Sebagian pendapat mengklaim Tumit Friar ( "Friar's Heel" ) adalah perubahan nama "Freya's He-ol" atau "Freya Sul", dari nama Dewa Jerman Freya dan (didakwa) perkataan Welsh bagi "laluan" dan "hari matahari" menurut turutan.

Stonehenge dikaitkan dengan legenda Raja Arthur. Geoffrey dari Monmouth berkata bahwa tukang sihir Merlin telah mengurus pemindahan Stonehenge dari Irlandia, di mana ia telah dibangun di Gunung Killaraus oleh raksasa yang membawa batu-batu tersebut dari Afrika. Selepas ia didirikan kembali berdekatan Amesbury, Geoffrey menceritakan dengan lebih lanjut bagaimana Uther Pendragon, kemudian Konstantinus III, dikebumikan di dalam bulatan batu tersebut. Dalam karangannya Historia Regum Britanniae, Geoffrey mencampurkan legenda Inggris dan khayalannya pada banyak tempat; menarik bahwa dia mengaitkan Ambrosius Aurelianus dengan monumen prasejarah ini, melihatkan bagaimana terdapat bukti nama yang sama antara Ambrosius dengan Amesbury yang berdekatan.

Replika
Terdapat replika Stonehenge ukuran penuh sebelum runtuh di Maryhill di Washington, dibangun oleh Sam Hill sebagai peringatan perang. Malah ia selari dengan matahari terbit pada pertengahan musim panas, tetapi tepat kepada kedudukan matahari sebenarnya di kaki langit maya, dan bukannya kepada kedudukan matahari di kaki langit sebenarnya. Replika Stonehenge terkenal yang lain keluar dalam film This is Spinal Tap. Lingkaran mobil ( car-henge ) telah dibangun sepenuhnya menggunakan mobil di Alliance, Nebraska oleh artis Jim Reynolds pada 2000.

(Dari Wikipedia)

Lihat:
- DESA PURBA STONEHENGE

ARKEOLOG CINA MEMBURU NAGA

Selama ribuan tahun, masyarakat Cina menganggap, mereka adalah turunan naga. Kendati hingga saat ini, belum ada bukti yang cukup mendukung, bahwa mereka adalah benar-benar "anak cucu naga". Tetapi dalam tahun ini, para arkeolog memiliki bukti yang cukup kuat, naga itu memang benar-benar pernah ada.

Hasil penggalian di lembah Sungai Liachoe, membuktikan dugaan kuat keberadaan naga itu pernah ada di muka bumi ini. Beberapa bukti dari hasil penggalian para arkeolog, menunjukkan ke arah pembenaran anggapan yang selama ini dianut masyarakat Cina. Dalam benak mereka percaya, naga merupakan simbol keberuntungan dan kebijakan.

Selain itu, mereka juga percaya naga adalah sumber kekuatan magis yang mampu mengontrol angin, hujan dan gerak alam raya. Sehingga benar-benar sangat memengaruhi gerak kehidupan manusia di muka bumi ini. Bahkan mereka juga yakin, naga ini merupakan penghubung antara manusia dengan para dewa di surga dan neraka.

Demikian besar kekuasaan naga itu, sehingga kaisar pertama yang menyatukan seluruh daratan Cina, yaitu Chin Sin Huang Ti atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Kaisar Kuning", oleh rakyatnya diberi gelar sebagai "Sang Putra Naga". Ia dianggap memiliki kekuatan abstrak, yang mampu menaklukkan empat negara dan berada dalam satu kekuasaan, yaitu dirinya. Sebagai simbol kekuasaannya, singgasana untuk memerintahnya yang terbuat dari batu giok diberi profil seekor naga yang sedang mengejar bola mustika.

Keunikan simbol naga ini, ternyata hampir merata ada di seluruh dunia. Di negara-negara Eropa, simbol ular naga itu digambarkan dengan wajah garang dan bersayap besar. Namun di Asia dan Amerika Latin, naga itu tidak memiliki sayap. Namun semua gambaran sama, sosok binatang itu memiliki sepasang kaki dengan cakar-cakarnya yang berkuku tajam.

Untuk membuktikan kepenasaran tentang keberadaan ular naga itu, para arkeolog Cina melakukan ekskavasi sejak tahun 1983 di beberapa lokasi yang diyakini pernah ditinggali oleh peradaban Cina kuno. Ekskavasi pertama dilakukan di sekitar Desa Niuheliang, di kaki Gunung Merah (Red Mountain). Tepatnya, berada di lokasi lembah Sungai Liachoe. Dari beberapa temuan membuktikan, bahwa di daerah ini pernah ditinggali sebuah peradaban kuno yang cukup maju ribuan tahun silam.

Pada penggalian pertama, para arkeolog menemukan dua potongan batu giok berbentuk seekor naga. Giok naga ini diukir secara halus, berwarna hijau transparan. Penemuan pertama ini, menurut para arkeolog sangat berharga. Dari bukti itu terlihat peradaban ribuan tahun silam memang sudah mengenal budaya ukiran yang sangat halus. Bahkan tak kalah indahnya, dengan hasil pahatan jaman sekarang yang menggunakan peralatan modern.

Penggalian hingga tahun 2003 itu melibatkan puluhan arkeolog dari Research Institute of Lioning Province, dan telah menyelesaikan pekerjaan pada 16 situs. Mereka mengaduk-aduk situs pada areal 1.576 meter persegi. Menggali enam kuburan kuno yang diduga adalah kuburan para penggede masa itu.

Fosil rahang naga?
Dari hasil penggalian itu, ditemukan 479 potong bukti-bukti yang mengarah tentang keberadaan ular naga, dalam bentuk fosil rahang dan bagian tubuh lainnya yang diduga merupakan bagian tubuh dari seekor ular besar. Termasuk tiga potong patung naga yang terbuat dari batu giok halus, yang ditemukan dari kuburan kuno. Konon temuan giok patung naga itu, hampir sama dengan temuan hasil ekskavasi di Desa Sanxingtala pada tahun 1970. Desa ini masuk dalam wilayah kota Cipeng di Monggolia Dalam.

Profesor So Bingqi, seorang arkeolog terkenal di Cina dan merupakan Ketua Asosiasi Arkeolog Cina mengungkapkan, temuan terbaru itu masih harus diteliti lebih jauh. Terutama dengan uji karbon, untuk mementukan umur binatang purba itu dan merekonstruksi seluruh bentuk fisiknya.

Penggalian dilakukan lebih dalam lagi, untuk mencari bagian fosil lainnya yang bisa membuktikan, apakah fosil itu merupakan binatang melata biasa atau memang seekor naga yang diduga hidup lebih muda beberapa ribu tahun dari zaman binatang purba Dinosaurus, T-Rex, Brontosaurus dan binatang-binatang purba lainnya.

Namun dari ukuran tubuh, yang bentuknya lebih kecil dibandingkan dengan sejenis dinosaurus, diduga kuat temuan itu memang adalah sejenis ular pemangsa. Karena terlihat dari taringnya yang sangat tajam yang mengarah ke dalam, seperti halnya pada binatang pemangsa lainnya yang ditemukan lebih dahulu seperti keluarga T-Rex. Namun dari fosil-fosil yang ditemukan, makhluk ini memiliki tubuh yang sangat panjang kurang dari 30 meteran dengan fosil membentuk seperti formasi ular.

Penelitian di sekitar lembah Sungai Liachoe masih terus dilanjutkan para arkeolog, untuk menentukan apakah temuan ini hanya satu-satunya bukti atau masih ada yang lain. Ternyata dugaan dari para arkeolog itu tidak sia-sia, penggalian di "Red Mountain Goddes", ternyata ditemukan bukti lainnya yang saling mendukung. Temuan serupa di lokasi ini, menemukan beberapa bukti lain yang menguatkan keberadaan naga itu.

Baik arkeolog Bingqi maupun Daahun, anggota Tim Kerja pencari bukti keberadaan naga itu menyimpulkan, ular yang selama ini dimitoskan memang ada. Hanya apakah bentuknya memang sempurna, seperti naga yang digambarkan dalam bentuk patung seperti di biara atau hanya ular purba biasa? Semua itu masih dalam tanda tanya. Para arkeolog masih mencari bukti-bukti lain, dan merekonstruksinya secara sempurna.

Untuk sementara, mereka berhasil merekonstruksi temuan fosil itu adalah sejenis binatang ular purba. Hal ini terlihat jelas, dari kerangka kepala yang mengarah pada sebuah kerangka ular. Namun masih belum sempurna, karena beberapa bagian lain yang diduga berupa tulang rawan bentuknya masih samar-samar. Tapi semua arkeolog meyakini, fosil itu adalah fosil naga, nenek moyang ular-ular sekarang.

Mengenai keraguan bentuk naga sebenarnya, untuk sementara mereka bersepakat gambaran patung-patung naga yang dibuat sejak ribuan tahun lalu, diduga kuat itu mewakili bentuk ular naga sebenarnya meski bukti-bukti pendukungnya masih dideteksi.

Mereka juga bersepakat, gambaran yang ditemukan dalam bentuk patung giok naga, patung dari hancuran emas dan perungu, yang diperkirakan berumur 8.000 tahun lebih, merupakan gambaran bentuk asli dari naga yang kini tinggal fosilnya.

Hanya saja, para arkeolog mempertanyakan, apakah kehadiran kehidupan naga itu bersinggungan dengan kehidupan manusia pada jamannya atau tidak. Kini teka-teki itu, masih harus dipecahkan oleh para arkeolog dengan menggunakan teknologi canggih untuk menentukan umur fosil itu secara pasti. Yang pasti, fosil yang tertimbun dalam kedalaman tanah itu diduga dahulunya adalah sebuah rawa-rawa besar.

Sementara mengomentari tentang temuan giok naga, dan coran emas dan merunggu, arkeolog mengatakan, penemuan itu termasuk penemuan yang paling berharga bagi para arkeolog Cina. Karena membuktikan, suku-suku bangsa Cina kuno ribuan tahun silam sudah biasa dalam membuat ukiran halus dengan peralatan yang sangat sederhana. Namun kualitas buatannya, tidak kalah dengan hasil torehan masyarakat Cina sekarang.

Suku-suku yang hidup di sekitar lembah Sungai Liachoe, termasuk suku yang menetap. Mereka hidup antara 5.000 - 8.000 tahun silam, dan membentuk koloni kehidupan dengan budaya yang tinggi. Namun tidak diketahui pasti, mengapa pada akhirnya suku-suku itu harus meninggalkan lembah Sungai Liachoe di jajaran pegunungan yang disebut Red Mountain.

(Dari Pikiran Rakyat / Penulis: Dedi Riskomar / berbagai sumber)

26 Oktober 2007

YETI, BIG FOOT, SASQUATCH


Sejak istilah sensasional "Manusia Salju yang Menjijikkan" muncul di dunia yang terkejut dan gembira, istilah itu jelas tidak hanya berlaku untuk satu mahluk serupa manusia, berbulu, berjalan tegak, berkelana di tempat yang masih perawan, tetapi menyangkut keluarga yang bervariasi dan tersebar luas.

Ketika laporan kejadian melihat mahluk ini menumpuk, tampaknya terdapat tiga tipe Yeti berbeda di wilayah Tibet, Himalaya: kecil, besar, dan amat besar, semua atau tidak satu pun yang berkerabat. Hanya yang besar tampaknya mempunyai hubungan dengan Bigfoot, Sasquatch, Skunk Ape dari Everglades, Momo Monster Missouri, dan varietas Amerika yang lain. Manusia kera di Cina mempunyai banyak persamaan dengan kelompok ini, tetapi Kaptar dari Rusia tampaknya mempunyai kelas tersendiri.

Apakah ras yang secara geografi berbeda ini merupakan species yang sama atau beberapa tipe berbeda tanpa persamaan apa pun kecuali berdiri tegak dan banyak bulu? Bahkan sebenarnya, bagaimana membandingkan mereka? John Green pemburu Sasquatch yang terkenal berusaha keras menjawab: Dalam istilah yang paling mendekati, varietas Amerika Utara jauh lebih besar ketimbang yang lain, sedangkan varietas Rusia lebih tinggi ketimbang varietas Himalaya tetapi mungkin tidak lebih berat. Mahluk Himalaya, menurut bukti berupa gambaran yang diberikan dan jejak kaki, sama sekali tidak mirip manusia. Varietas Rusia, sebaliknya mungkin amat dekat dengan manusia.

Demi kepentingan mereka yang takut bahwa membuhuh Big-foot untuk dipelajari bukan hanya berarti melakukan pembunuhan tetapi juga rnenghilangkan mahluk langka, Green menambahkan dengan tegas bahwa "tidak ada kemungkinan sekecil apapun bahwa Sasquatch dapat dianggap manusia atau mirip manusia, mereka juga bukan species yang terancam punah.... " Dia yakin bahwa jumlah mereka cukup banyak. Dengan sedikit perkecualian, Bigfoot adalah raksasa yang ramah, secara tidak pantas dianggap monster oleh orang yang tidak dapat menerimanya sebagai anggota kerajaan binatang.

Yeti juga secara sensasional dibelokkan dari proporsi kenyataan. Bagi para Sherpa tidak ada yang misterius mengenai Yeti: mahluk yang menjadi bagian dan kehidupan mereka dan kenangan selama paling sedikit 200 tahun. Penduduk desa di Himalaya dan para pemburu memasukkannya sebagai binatang lain ketika mendiskusikan fauna setempat. Bila mahluk itu tampaknya pandai menyembunyikan diri, hal itu karena habitatnya terletak jauh dari jalur manusia.

Para pemburu di Himalaya mengatakan bahwa Yeti bukan manusia, dan mereka juga tidak tinggal di zona bersalju. Tempat tinggalnya adalah hutan Himalaya yang paling tinggi, dalam kelebatan yang nyaris tak tertembus. Di sana mahluk ini terkenal bergerak menggunakan keempat anggota badan atau berayun dan pohon ke pohon. Kalau mahluk ini berkelana ke zona bersalju, tempat pendaki gunung mungkin melihatnya atau melihat jejak kakinya, mahluk ini berjalan tegak dengan gaya yang canggung. Sherpa menduga bahwa alasan mahluk ini melintasi ladang bersalju adalah mencari lumut yang mengandung garam yang tumbuh di batu moraine. Ivan Sanderson mengatakan bahwa mahluk itu bukan mencari lumut melainkan lumut kerak, yang kaya dalam gizi.

Mahluk Amerika tampaknya sedikit lebih suka berkelompok dan jauh lebih ingin tahu ketimbang kerabathya di Asia, tetapi juga tampaknya menikmati gaya kehidupan menyendiri. Orang yang skeptik mungkin heran bagaimana binatang yang demikian besar dan diduga cukup banyak mampu menghindari pencari dengan demikian mudah. Dalam jawaban Peter Byrne, pendiri The International Wildlife Conservation Society, Inc., menunjuk bahwa teritori Sasquatch seluas 125.000 mil persegi di Pasifik Barat Laut adalah gunung yang ditumbuhi hutan lebat hanya dengan sedikit jalan, kerapatan populasi manusia yang rendah, dan hampir tidak ada pengunjung. Banyak ruang dalam tempat hidup seperti ini untuk Sasquatch dan mahluk lain untuk menyembunyikan diri dan hidup dalam isolasi yang damai tanpa ancaman.

Pertanyaan identifikasi masih belum terjawab. Hidup dalam hutan yang sulit ditembus tampaknya menjadi karakter makhluk besar, berbulu berjalan tegak di mana pun dan menunjukkan bahwa mereka mungkin gagal dalam evolusi mencari perlindungan dari dunia yang memusuhi dan membahayakan. Bila beberapa zeuglodon dan plesiosaurus tergelincir melewati jaringan waktu, mungkin teka-teki mahluk berkaki dua juga jenis dari zaman purba.
  
     
1) Mahluk ini berhasil dibunuh di perbatasan Colombia dan Venezuela tahun (1920) tinggi 1,5 meter tanpa ekor. 2)Mahluk ini memiliki kromosome yang sedikit menyerupai kera, tetapi lebih banyak menyerupai manusia

Bernard Heuvelmans menduga bahwa "manusia liar" dari Asia mungkin sisa-sisa ras Pithecanthropus, yang menghuni Asia tenggara di akhir periode Pliosen - terutama spesimen berukuran besar dari kelompok manusia kera purba, disebut Pithecanthropus robustus dan Meganthropus palaeojavanicus. Bahkan varietas kerdil dari species itu mungkin masih bertahan hidup, cerita mengenai mahluk serupa kera tidak dikenal berbadan kecil yang kadang-kadang terlihat.

Zhou Guoxing dari Peking Museum of Natural History menduga bahwa binatang serupa kera yang terlihat di dan sekitar propinsi Hubei di tahun 1970-an mungkin adalah keturunan dari Meganthropus, "manusia kera raksasa yang punah karena kurang cerdas untuk beradaptasi dengan lingkungannya." Mahluk purba yang lain kemungkinan peserta yang lain. Di tahun 1935 ahli paleontologi bangsa Belanda Ralph von Koenigswald dalam penggalian menemukan koleksi fosil gigi dari Asia yang "jelas identik dengan gigi manusia, tetapi enam kali lebih besar." Dia memutuskan bahwa spesimen itu pasti berasal dari suatu species kera raksasa, mungkin sudah punah setengah juta tahun yang lalu, yang disebutnya Gigantophitecus.

Tetapi Gigantophitecus mungkin belum punah. Ahli zoologi Edward Cronin menduga bahwa, selama Zaman Pleistosen, Gigantophitecus dari Asia menghindar dari ancaman Homo erectus dalam lembah Himalaya yang nyaris tidak tertembus. Dan kerabat kera raksasa, jauh atau dekat, mungkin telah menemukan tempat hidup tersembunyi di daerah yang masih belum dieksplorasi di Dunia Baru.

(Sumber: Misteri yang tersembunyi penerbit Lucky Publisher)

GLIPTOLITHIC PERU


Di daerah pantai yang terpencil di Peru terdapat salah satu koleksi artifak pre-Columbia yang paling luar biasa yang pernah diketahui oleh manusia, berupa kumpulan batu karang purba berpahatkan "gliptolithic" yang dikenal sebagai “Batu-batu Ica”. Koleksi pribadi ini, dimiliki oleh Dr. Javier Cabrera, terdiri dari kumpulan suatu peradaban yang hilang dan kompleks. Termasuk dalam kumpulan batu-batu tersebut gambar-gambar ukiran transplantasi kedokteran, transfusi darah, manusia dengan dinosaurus, dan teknologi canggih seperti teleskop dan peralatan operasi. Kumpulan tersebut tersusun menurut bidangnya termasuk suku-suku bangsa manusia, binatang-binatang purbakala, benua-benua yang hilang, dan pengetahuan mengenai bencana global. Koleksi Cabrera berjumlah lebih dari 11.000 buah batu.

Jauh di atas Pegunungan Andes, Amerika Selatan, ada sebuah daerah tandus di Peru yang tidak biasa dan juga tidak alami. Dilihat dari udara, daerah ini dengan mudah disalahartikan menjadi lapangan udara yang ditinggalkan. Seseorang telah dengan hati-hati membersihkan dan memahat sekumpulan garis-garis lurus laser yang membentang berkilo-kilometer panjangnya. Sebagian besar dari garis-garis ini hanya cukup lebar untuk disebut sebagai jalan setapak. Daerah-daerah lain membentuk persegi panjang dan trapesium, dengan lebar dan panjang ratusan meter. Sungguh, daerah itu terlihat seolah-olah dibuat untuk mengakomodasi satu armada DC-747, tetapi “landasan terbang” ini berumur ribuan tahun.

Ini hanyalah salah satu dari banyak misteri yang bisa ditemukan di daerah tersebut. Di puncak-puncak gunung di sana, bisa ditemukan sisa-sisa tembok dan bangunan yang utuh. Arsitekturnya semua dibuat dari batu-batu besar – sebagian seberat lokomotif –setiap batu dipahat dengan sangat teliti dan dipindahkan ke puncak-puncak yang tinggi dari tambang yang berjarak kira-kira lima mil. Ketepatan penyelesaian akhir dari setiap batu begitu akurat sehingga tidak dibutuhkan pasir atau semen. Batu-batu tersebut disatukan dengan
begitu erat sehingga bahkan sebuah peniti pun tidak dapat diselipkan di antara mereka.

Pada waktu orang-orang Spanyol datang ke Peru dan menemukan konstruksi ini, mereka bertanya kepada penduduk pribumi apakah mereka yang telah membuat monumen-monumen besar ini. Tetapi penduduk pribumi Peru hanya memiliki legenda mengenai “orang purbakala” yang datang dan pergi, jauh sebelum mereka membentuk desa-desa mereka. Identitas mereka masih merupakan sebuah misteri.

Di daerah ini, tidak sering turun hujan. Di pertengahan tahun 1960an banyak turun hujan. Kekeringan menghilang dengan cepat terisi sampai kapasitas dan sungai-sungai yang biasanya tenang tersapu oleh banjir yang berarus deras. Di sebuah kota kecil di dekat Nazca terletak, sepanjang tepi Sungai Ica yang sempit terkikis, memperlihatkan beberapa ratus batu pahat yang telah terkubur di ruang bawah tanah. Sewaktu air surut, batu-batu pahat tersebut tertinggal di tepi sungai Ica.

Ketika penduduk setempat mulai mengumpulkan batu-batu ini, sebuah ukiran yang berbentuk ikan menarik perhatian Dr. Javier Cabrera, dokter di kota tersebut. Dr. Cabrera mengenali garis bentuk tersebut seperti satu spesies ikan yang telah punah. Rasa keingintahuannya tergugah, dia mencari lebih banyak lagi batu-batu seperti ini. Pada akhirnya, penduduk desa mengetahui bahwa ia tertarik pada benda-benda aneh ini jadi mereka memberinya apa yang sekarang menjadi koleksinya – sesuatu yang Cabrera sebut sebagai “perpustakaan”nya – mengenai teka-teki batuan.

Bebatuan tersebut terdiri dari berbagai ukuran. Ada batu-batu yang kecil yang dapat dengan mudah digenggam dan ada batu-batu karang sebesar anjing. Semua bebatuan tersebut memiliki ukiran yang telah dipahat dengan garis-garis yang tidak terputus-putus yang diukirkan di permukaan batu tersebut. Ukiran tersebut memperlihatkan warna yang lebih terang daripada sapuan berwarna tua yang dikarenakan usia, tetapi alur-alur ukiran tersebut juga memperlihatkan jejak-jejak sapuan ini, menandakan bahwa ukiran tersebut dilakukan di masa purba.

Dr. Cabrera menunjukkan koleksi Bebatuan berukir purbanya yang sangat banyak yang ia sebut “gliptoliths.” Bebatuan tersebut terdiri dari kumpulan yang rumit yang ditinggalkan oleh peradaban purbakala yang hilang termasuk pahatan-pahatan mengenai transplantasi medis dan transfusi darah, manusia dengan dinosaurus, serta teknologi canggih seperti teleskop dan peralatan operasi. Kumpulan tersebut tersusun menurut bidangnya termasuk suku-suku bangsa manusia, binatang-binatang purbakala, benua-benua yang hilang, dan pengetahuan mengenai bencana global.

Doktor tersebut telah menghabiskan tiga puluh tahun terakhir dengan berusaha keras untuk memecahkan misteri batu-batu tersebut. Ia memperoleh batu pertamanya ketika ia diberikan satu sebagai pemberat kertas untuk hari ulang tahunnya. Ia mengingat bahwa ayahnya memiliki sebuah batu ukiran yang aneh yang keluarganya temukan di ladang mereka di tahun 1930an, tetapi telah lama hilang. Sejarah Spanyol purbakala melaporkan bebatuan yang serupa ditemukan di kuburan-kuburan purbakala sebelum zaman penaklukan.

Koleksi Cabrera berjumlah lebih dari 11.000 batu dengan lebih dari 15.000 yang diketahui ada. Tempat persembunyian yang besar tersibak pada waktu sungai Ica meluap ke tepi-tepinya beberapa tahun yang lalu menghancurkan sebuah gunung di dekatnya, dan membuka gua yang tidak diketahui. Seorang petani yang buta huruf mengaku telah menemukan gua tersebut tetapi tidak mau mengungkapkan lokasinya. Berita akan penemuan tersebut menarik perhatian para peneliti, dan mata dunia beralih pada Ica. Selanjutnya, BBC memproduksi film dokumenter mengenai penemuan yang sulit dimengerti tersebut yang menarik perhatian yang luar biasa dari Pemerintah Peru.

Di bawah tekanan untuk mempertahankan hukum yang sudah berabad-abad umurnya di negara tersebut, Pemerintah menahan petani itu karena menjual batu-batuan tersebut. Terancam hukuman penjara selama bertahun-tahun, petani tersebut menarik kembali ceritanya mengaku bahwa ia telah mengukir sendiri semua 15.000 buah batu tersebut. Batu-batu tersebut dianggap suatu penipuan, dan pemerintah menganggap masalah yang memalukan tersebut telah ditutup. Kehidupan di Ica kembali berjalan normal, atau demikianlah kisah tersebut berjalan. Apakah ini bagian dari upaya merahasiakan hal yang berkaitan dengan alien? Cover-up?

Telah ditunjukkan bahwa “pengetahuan teknis yang tinggi” dari tempat-tempat kejadian, tidak memungkinkan untuk seseorang dengan “sedikit atau tidak memiliki pendidikan sama sekali”, dan tanpa pengertian yang dalam mengenai pengetahuan ilmiah yang rumit, dapat menggambar batu-batu tersebut dengan demikian akurat. Sebenarnya, telah diperhatikan, petani tersebut akan harus memahat satu batu setiap hari selama lebih dari 40 tahun untuk menghasilkan keseluruhan kumpulan tersebut!

Batu-batu tersebut terbentuk dari andesit, batuan sungai local, dilapisi oleh lapisan yang disebabkan oksidasi alami. Laboratorium-laboratorium di Jerman telah mengesahkan bahwa goresan-goresan yang membentuk pahatan-pahatan tersebut adalah benar-benar kuno. Penemuan-penemuan fosil di daerah sekitar menandakan bahwa daerah tersebut penuh dengan pecahan-pecahan tulang berusia jutaan tahun.

Cabrera berteori bahwa manusia Gliptolithic memiliki pengetahuan teknis yang canggih mengenai prosedur medis dan telah menemukan suatu cara untuk mengatasi penolakan organ-organ tubuh yang baru sekarang digunakan oleh ilmu medis modern. Serangkaian pahatan memperlihatkan pengisolasian dan pengambilan materi sel dalam plasenta wanita hamil untuk pengenalan kembali ke dalam tubuh pasien transplantasi demi menghilangkan kemungkinan penolakan. Sistem-sistem pendukung kehidupan buatan ditampilkan menggunakan energi yang tidak dikenal yang sepertinya dibawa-bawa selama operasi itu sendiri. Ada pengerjaan kode-kode genetik, dan perpanjangan kehidupan. Pembuluh-pembuluh darah terlihat disambungkan kembali melalui selang-selang penghisapan kembali menggunakan regenerasi alami sel. Ada penggambaran operasi Caesar dengan akupunktur sebagai bentuk anestasi.

Dalam rangkaian lain, empat buah batu memperlihatkan belahan Bumi yang mengacu pada keberadaan benua yang tidak diketahui keberadaannya yang sampai hari ini masih menjadi sebagian mitos kita bersama. Mendukung teori purbakala mengenai benua tersebut, peneliti dan penulis, James Churchward, menemukan sebuah kepingan sakral berukir milik orang-orang Tibet yang memperlihatkan dua benua yang tidak dikenal di kedua sisinya yang sekarang dikenal sebagai Amerika. Plato mengatakan bahwa benua yang hilang tersebut adalah Atlantis, seperti yang juga dikatakan catatan-catatan kuno dari Timur.

Penjelajah William Niven, menemukan sebuah petrogliph di Yucatan yang menggambarkan suatu konfigurasi daratan luas yang tidak dapat dijelaskan baik di Samudera Atlantik, maupun Pasifik, dikira adalah Atlantis dan Mu. Hanya pada akhir-akhir ini para ilmuwan menyetujui teori pergeseran benua di mana Amerika, Asia, dan Afrika diartikan sama sekali berbeda daripada hari ini. Dengan bantuan para geologis, Cabrera telah memastikan bahwa daratan yang luas itu memang akurat untuk Bumi karena daratan luas tersebut secara geologi terbentuk jutaan tahun yang lalu.

Cabrera meyakini bahwa orang-orang Gliptolithic mengetahui mengenai keberadaan kehidupan di bintang-bintang yang jauh dan memiliki peralatan teknis untuk perjalanan ruang angkasa tanpa penggunaan konsumsi bahan bakar seperti yang kita ketahui. Beberapa batu menunjukkan pahatan yang menggambarkan daratan-daratan di Nazca yang diinterpretasikan oleh Cabrera sebagai “pusat peluncuran pesawat-pesawat ruang angkasa” purbakala berdasarkan pada digunakannya energi elektromagnetik untuk dorongan bagi kendaraan-kendaraan untuk melakukan perjalanan ruang angkasa.

Ia menunjukkan bahwa bumi pada saat itu sangat berbeda dari bumi yang sekarang, dengan 80% daratan luas, dan sangat sedikit air. Situasi planet memburuk karena kenaikan tingkat pemanasan di lapisan atmosfer, dan dari kenyataan bahwa energi matahari tidak dapat melepaskan diri dari kabut asap yang menghalangi radiasi yang menuju ke luar. Orang-orang Gliptolithic berusaha untuk memanipulasi lingkaran biologi alami tetapi pada akhirnya perubahan yang tiba-tiba pada lapisan luar bumi tersebut menimbulkan pergeseran tektonik, banjir besar, dan pergerakan benua-benua.

Saat peradaban purba bersiap-siap untuk meninggalkan Bumi sebagai tempat tujuan mereka mereka memilih sebuah planet dalam sebuah sistem yang termasuk pada kelompok bintang Pleiades yang mereka ketahui dengan baik, planet tersebut adalah tempat asal mereka yang sebenarnya. Sebuah batu besar dalam perpustakaan Cabrera menunjukkan belahan planet tersebut memiliki kehidupan yang cerdas dan kemampuan melakukan perjalanan ruang angkasa.

Satu batu yang tidak biasa menggambarkan seorang pria memandang langit melalui sebuah teleskop memproyeksikan “energi kognitif” ke dalam alam semesta untuk menangkap energi dalam jumlah besar, dilambangkan dengan diagram dan pyramid. Energi ini digunakan untuk penyimpanan, akumulasi, dan penyebaran suatu “kekuatan” yang tidak dikenal yang bisa dilepaskan ke luar ke dalam alam semesta untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa di angkasa.

Batu besar tersebut diukir di empat bagian menggambarkan suatu urutan proporsi di antara bintang-bintang – Sebuah komet yang fantastic mengikuti sebuah lintasan yang tidak lazim (yang menimbulkan gangguan-gangguan malapetaka), sebuah gerhana matahari cincin, planet Jupiter, Venus, Kepala Kuda Nebula, dan tigabelas susunan bintang termasuk Pleiades. Cabrera meyakini bahwa energi yang dikeluarkan komet tersebut digunakan untuk “menumpang” melalui pesawat mereka menuju tanah kelahiran mereka, yang berada dalam lintasan komet tersebut.

Di tahun 1973 komet Kohoutek dilaporkan berada di langit kita, ilmu pengetahuan melaporkan bahwa komet tersebut merupakan suatu peristiwa yang tidak akan pernah terlihat lagi, “Sebuah komet dengan lintasan yang tidak lazim, yang akan terlihat selama gerhana matahari di mana planet Venus dan Jupiter akan terlihat secara jelas di siang hari.” Cabrera mengasumsikan bahwa Kohoutek mungkin adalah komet yang sama dengan milik orang Gliptolithic.

Pemberangkatan dari Bumi bertempat di pusat peluncuran pesawat ruang angkasa Nazca, papan tulis purbakala yang dikenal sebagai padang rumput. Daerah ini, penuh dengan ratusan garis yang mengingatkan pada lintasan, hanya bisa dikenali dari udara. Menurut Cabrera, garis-garis tersebut merupakan suatu perwakilan dari matriks energi dan medan listrik yang ditunjukkan secara simbolik pada dataran tersebut, sangat mirip dengan crop cirle yang ada sekarang. Seluruh daerah teresbut terdiri dari kandungan bijih besi yang sangat banyak yang mengkonsentrasikan medan elektromagnetik dengan kekuatan yang luar biasa.

Doktor tersebut meyakini bahwa padang rumput tersebut direkayasa sebagai sebuah penyimpangan medan magnet. Sebuah fenomena dengan apa sebuah objek bergerak dengan muatan listrik akan melambung-lambung di permukaan dengan muatan listrik yang sama. Medan yang menyebar ke seluruh bagian padang rumput tersebut dirancang untuk membelokkan pesawat yang menuju ke luar angkasa. Sebuah glyph pada khususnya menyerupai sebuah solenoid yang bertujuan, doctor itu yakin, untuk meningkatkan kekuatan arus listrik yang menimbulkan efek “ledakan” yang kuat.

Cabrera mengasumsikan bahwa garis-garis di Padang Rumput tersebut pada awalnya dibuat di lapisan sub-permukaan yang lebih rendah di bawah permukaan yang sekarang, apa yang kita lihat hari ini sebenarnya merupakan suatu “efek bayangan” dari pola yang sebenarnya. Ia berteori bahwa simbol-simbol di padang rumput tersebut secara magnetis dicapkan ke permukaan yang menimbulkan suatu gaya yang dapat menghindarkan dan melindungi mereka dari bencana alam. Teka-teki magnetic ini akan terus berfungsi untuk selamanya menarik berbagai macam materi logam permukaan ke dalam rancangan tersebut, menjadikan lapisan permukaan sebagai suatu bayangan dari lapisannya sendiri yang sebelumnya. Sejumlah lempengan pada Batu-batu Ica menunjukkan pesawat-pesawat yang tergantung dalam penampang elektromagnetik yang medan energinya dikendalikan oleh baik permukaan planeti tu sendiri, dan juga pesawat tersebut!

KRAKEN DAN SEBANGSANYA


Kisah-kisah tentang raksasa laut yang diceritakan oleh para pelaut tidak pernah dipandang dengan serius. Dua per tiga dunia ditutupi air. Ini adalah area yang luas untuk ditinggali dan juga tidak bisa dijangkau manusia. Tidak dipastikan apakah nanti laut akan memperlihatkan dirinya seperti akuarium kepada ilmuwan. Jika ini terjadi kita akan bisa melihat gua-gua laut ditinggali sesuatu seperti apa yang kita baca hanya di buku-buku fantastis. Tapi untuk sementara waktu ini, kita hanya bisa membuat perkiraan mengenai kehidupan laut sebenarnya berdasarkan sedikit bukti yang diperlihatkan oleh laut dari waktu ke waktu kepada kita.

Cumi-cumi sepanjang 15 meter terdampar di Kanada; sebuah trailer dipakai untuk memindahkan moluska raksasa itu. Cumi-cumi ini dikirimkan ke pusat penelitian di mana para ahli mengukur tentakel dan menyimpulkan bahwa ini adalah moluska jenis baru yang belum dikenal oleh ilmu pengetahuan. Para ilmuwan menghabiskan jutaan dolar untuk menangkap atau paling tidak mengambil foto moluska raksasa yang tinggal di kedalaman laut. Tetapi, tidak ada hasil apa pun dari ekspedisi mahal ini. Tidak satu peneliti pun melihat raksasa cephalopoda hidup, hanya ada yang mati terdampar di pantai.

Pelaut beberapa kali menyatakan mereka melihat cumi-cumi raksasa hidup. Cerita ini dianggap seperti dongeng pelaut mabuk. Orang-orang tahu bahwa pelaut menceritakan cerita luar biasa bukan tentang moluska raksasa.

Pada 1955, sebuah koran Kanada mempublikasikan cerita misterius yang didapat dari pelaut. Sebuah kapal yang berlayar menambrak sesuatu yang aneh. Setelah berpisah jauh, benda itu terlihat seperti bukan ikan hiu busuk atau ubur-ubur raksasa mengambang di permukaan air. Ketika kapal mendekati benda itu, pelaut John Squires bersandar di papan untuk mengait benda itu.

Tetapi setelah pengait besi menyentuh benda seperti ubur-ubur itu, sebuah tentakel besar ke luar darinya. Pelaut itu ketakutan dan terjatuh di dek. John kaget dan wajahnya pucat pasi. Dua anggota awak kapal harus menolong dia ke kabin di mana dia menunggu sampai tiba di pelabuhan. Cerita ini muncul tidak jauh dari lokasi tempat moluska besar terdampar musim semi lalu. Pelaut itu sangat terpukul hingga Joh Squires tidak pernah melaut lagi sejak hari itu.

Apa yang diketahui orang tentang monster cephalopoda? Hampir tidak ada dan jika ada yang tahu, hanya tahu sedikit sekali. Cephalopoda besar hidup di kedalaman sekitar 2.000 meter. Mereka menghabiskan seluruh hidupnya berenang dan terus bergerak. Kita bisa memperkirakan ukuran cephalopoda besar melalui ukuran mata dari cumi-cumi besar yang disimpan di musium Amerika sekarang. Mata dari cumi ini berdiamater 40 sentimeter yang hampir sebesar bola basket. Mata ini diambil dari perut hiu besar yang dibunuh oleh pemburu hiu. Cumi adalah makanan favorit dari hiu besar. Biasanya mereka makan cumi yang lebih kecil 4-6 kg dan menelannya dalam kelompok, ketika hiu besar menunjukkan kekuatan mereka. Sebagian besar kasus, kata ilmuwan, hiu adalah pemenangnya dan memakan musuhnya.

Ada lagi satu misteri, baru-baru ini, peneliti Jepang melakukan eksperimen menarik di Teluk Suruga, tidak jauh dari Mariana Trench, tempat paling dalam di samudera dunia. Para peneliti meletakkan sebuah kontainer dengan umpan berbau di dasar teluk. Video kamera khusus ditempelkan di dinding kontainer, lalu peneliti tersebut memperhatikan monitor untuk melihat apa yang akan terjadi dengan kontainer dan umpannya.

Bau dari umpan menarik sekelompok hiu yang tinggal di kedalaman laut. Kemudian peneliti melihat sesuatu yang luar biasa yang membuat mereka tidak bisa berkata-kata. Tiba-tiba hiu-hiu itu lari ke segala penjuru dan para peneliti melihat monster yang sangat besar di layar monitor mereka. Raksasa itu dengan gerak lambat menjauh dari kamera video di kedalaman 1,5 kilometer. Panjang Goliat laut itu lebih dari 60 meter. Tidak jelas raksasa itu apa.

Para peneliti gagal menjawab pertanyaan, hanya bisa menduga makhluk apakah itu. Mereka mengatakan itu mungkin hiu tidur, hiu paling besar. Sampai sekarang orang hanya tahu sedikit fakta tentang hiu ini. Mereka selama ini bersembunyi di kedalaman laut selama jutaan tahun. Orang-orang tidak pernah melihat hiu-hiu tidur hidup dan cumi raksasa. Hanya sekali, pada 1964, beberapa hiu tidur mati terdampar di Indonesia. Itu cuma hiu muda terlihat dari ukurannya yang hanya 26 meter.

Sekarang mari kita pergi ke Skotlandia, Danau Loch, rumah dari satu lagi monster misterius yang dipanggil orang Nessy. Ada sejumlah laporan mengatakan banyak orang melihat monster misterius. Setiap tahun media melaporkan banyak bukti dari saksi mata yang bertemu dengan warga sekitar. Perusahaan Skotlandia mempergunakan kesempatan untuk mencetak banyak uang dari hadiah aneh dari alam ini. Toko kecil dekat danau menjual bertumpuk cindera mata, buku panduan dan barang kerajinan tangan lainnya dengan gambar Nessy. Orang lokal mematok tarif yang sangat masuk akal untuk mengantar anda melalui rute tempat orang lain mengatakan pernah melihat monster itu.

Masih ada skeptisme yang mengatakan monster danau itu hanya imajinasi. Mereka meminta untuk menceritakan spesimen dari monster danau dan mengatakan paling tidak mereka ingin menyentuh mayatnya, setelah itu mereka baru mau percaya fenomena ini benar-benar ada.

Mari kita tinggalkan skeptisme ini. Di tahun 1966, seorang pilot Royal Air Force memberikan pernyataan bahwa monster laut itu ada. Mereka merekam sebuah kejadian dimana salah satu dari makhluk itu menyeberangi danau Loch. Ketika para ahli mempelajari rekaman itu mereka menyimpulkan bahwa ini adalah makluk hidup. Ketika monster itu menyeberangi danau; gerakannya membentuk huruf “V” di permukaan danau. meskipun orang skeptis dan mengatakan ini hanya bongkahan kayu, yang mana pastinya bukan. Bongkah kayu tidak mengapung dalam kecepatan seperti ini.

Diduga bahwa monster Danau Loch adalah presiosaurus hidup. Tidak dipastikan apakah sekelompok presiosaurus hidup di danau dan menganggu para turis dari waktu ke waktu (atau mungkin para turis mengganggu makhluk ini?) Mungkin saja makhluk prasejarah ini bertahan hidup dalam jutaan tahun? Ini adalah hal yang mungkin karena kura-kura, buaya dan hiu hidup di era yang sama dengan presiosaurus dan masih bertahan hingga hari ini.

(Sumber:Science.pravda.ru)

KAKI BIGFOOT

William Dranginis adalah seorang kepala organisasi penelitian Bigfoot di Virginia memiliki opini khusus atas penemuan potongan kaki seukuran dengan manusia, dia percaya bahwa potongan kaki yang ditemukan adalah Kaki Bigfoot. Perlu diketahui bahwa William telah melakukan penelitian eksklusif untuk mempelajari makhluk aneh selama 10 tahun.







25 Oktober 2007

ATLANTIS, BENUA YANG HILANG

Legenda yang berkisah tentang "Atlantis", pertama kali ditemui dalam karangan filsafat Yunani kuno: Dua buah catatan dialog Plato (427-347 SM) yakni: buku Critias dan Timaeus. Pada buku Timaeus, Plato berkisah: Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut. negara besar yang mempunyai peradaban tinggi itupun lenyap dalam semalam.

Pertanyaannya dimanakah Atlantis itu berada? Banyak spekulasi dan versi yang beredar mengenai kepastian lokasi dari pulau Atlantis tsb. Ada yang mengatakan bahwa Atlantis berada di bawah es Antartika, di Segitiga Bermuda, di Laut Karibia, ada juga yang mengatakan kalau Atlantis adalah Celtic Shelfs itu sendiri yang ada di Samudera Atlantik, dan ada juga yang berkesimpulan bahwa Atlantis itu adalah kepulauan Indonesia.

Satu bagian dalam dialog buku Critias, tercatat kisah Atlantis yang dikisahkan oleh adik sepupu Critias. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates , tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon ( 639-559 SM). Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.

Catatan dalam dialog, secara garis besar seperti berikut ini:
Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya: istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertakhtakan emas,cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat,tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.

Atlantis digambarkan sebagai peradaban dengan tingkat kemajuan teknologi yang tinggi. Konon pesawat terbang, pendingin ruangan, batu baterai, dan lain lain telah ada pada masa itu. Menurut perhitungan versi Plato, waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Bukti-bukti Arkeologi
  • Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?
  • Awal tahun '70-an, sekelompok peneliti telah tiba di sekitar kepulauan Yasuel, Samudera Atlantik. Mereka telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?
  • Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia! Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?
  • Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut "segitiga maut" laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang. Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?
  • Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut "segitiga maut". Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil,bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan: "Mutlak percaya, yang kami temukan adalah Benua Atlantik! Sama persis seperti yang dilukiskan Plato!" Benarkah itu? Yang disayangkan, piramida dasar laut segitiga Bermuda, berhasil diselidiki dari atas permukaan laut dengan menggunakan instrumen canggih, hingga kini belum ada seorang pun ilmuwan dapat memastikan apakah sebuah bangunan yang benar-benar dibangun oleh tenaga manusia, sebab mungkin saja sebuah puncak gunung bawah air yang berbentuk limas. Foto peninggalan bangunan kuno di dasar laut yang diambil tim ekspedisi Rusia, juga tidak dapat membuktikan di sana adalah bekas tempat kerajaan Atlantis.
  • Tahun 2004, Robert Sarmast mengklaim dirinya telah menemukan sisa-sisa kota hilang Atlantis di dasar Laut Mediterania timur dengan menggunakan sonar yang dipakai untuk menyisir dasar laut 80 kilometer tenggara Cyprus telah menandai adanya dinding-dinding buatan manusia, salah satunya sepanjang 3 kilometer, dan parit-parit pada kedalaman 1.500 meter. "Adalah suatu keajaiban bahwa kami menemukan dinding-dinding yang lokasi dan panjangnya sama dengan deskripsi Plato dalam tulisannya mengenai kota Atlantis," kata Sarmast, merujuk pada filsuf Yunani yang terkenal itu. Mengenai pernyataan di atas, pimpinan arkeolog Cyprus, Pavlos Flourentzos, menanggapi skpetis. Dikatakannya, klaim Sarmast itu haruslah didukung lebih banyak bukti. (Kompas)
  • Dalam buku yang dikarang oleh Prof.Arysio Santos, Atlantis - The Lost Continent Finally Found, dia mengatakan bahwa Atlantis itu berada di Laut Cina Selatan. (Atlantis - The Lost Continent Finally Found)
  •  Setelah itu ada tim ekspedisi menyelam ke dasar samudera jalan batu di dasar lautan Atlantik Pulau Bimini, mengambil sampel "jalan batu" dan dilakukan penelitian laboratorium serta dianalisa. Hasilnya menunjukkan, bahwa jalan batu ini umurnya belum mencapai 10.000 tahun. Jika jalan ini dibuat oleh bangsa kerajaan Atlantis, setidak-tidaknya tidak kurang dari 10.000 tahun. Mengenai foto yang ditunjukkan kedua kelasi Norwegia itu, hingga kini pun tidak dapat membuktikan apa-apa.
Satu-satunya kesimpulan tepat yang dapat diperoleh adalah benar ada sebuah daratan yang karam di dasar laut Atlantik. Jika memang benar di atas laut Atlantik pernah ada kerajaan Atlantis, dan kerajaan Atlantis memang benar tenggelam di dasar laut Atlantik, maka di dasar laut Atlantik pasti dapat ditemukan bekas-bekasnya. Hingga saat ini, kerajaan Atlantis tetap merupakan sebuah misteri sepanjang masa.

(Dari Erol Tooy Website)

DUNIA PARALEL ANTARA FIKSI DAN KENYATAAN

Dunia Paralel Antara Fiksi dan Kenyataan
Berdasarkan perhitungan matematis, para ahli fisika kuantum percaya bahwa setiap hari, bahkan setiap detik, sebuah dunia paralel tercipta. Dunia paralel ini tercipta saat suatu peristiwa terjadi, dimana ia merupakan lawan dari peristiwa itu. Misalnya saja, saat seseorang memutuskan untuk berbelok ke kiri, maka tanpa disadari ia telah menciptakan sebuah dunia paralel dimana dirinya mengambil keputusan yang berlawanan, dalam hal ini berbelok ke kanan.

Dunia paralel yang tercipta itu jumlah sangat tidak terbatas, karena konsep waktu memang tidak akan pernah habis dibagi. Seberapa kecilpun kita membagi waktu, misalnya saja sepersejuta milyar detik, tetap saja sebuah peristiwa akan tetap terjadi dalam hitungan sepersejuta milyar detik itu.

Konsep dunia paralel ini banyak menjadi inspirasi bagi para pembuat film. Salah satu contohnya adalah film serial televisi Sliders, yang menceritakan seorang ilmuwan bernama Mallory Quinn yang secara tak sengaja menciptakan alat yang dapat membawanya ke dunia-dunia paralel lain. Di dunia paralel itu tak jarang ia menemukan dirinya sendiri yang menghuni dunia tersebut. Di sana, Quinn memiliki perwujudan fisik yang persis sama tapi memiliki sifat bahkan kehidupan yang berbeda.

Nah, dalam perjalanan antar dunia paralel itu, Quinn dan rekan-rekannya menempuh sebuah 'jembatan' yang dalam istilah fisika dikenal dengan nama Einstein-Rosen Bridge. Jembatan ini dalam kenyataannya adalah hasil perhitungan Fisikawan Albert Einstein dan Nathan Rosen yang percaya bahwa antara satu dunia paralel dengan dunia paralel lainnya terhubung oleh sebuah medium yang dikenal dengan istilah wormhole.

Masalahnya, berdasarkan kalkulasi matematis, jembatan Einstein- Rosen ini memiliki energi gravitasi yang sangat besar sehingga siapapun yang melewatinya tidak akan bisa keluar dengan selamat. Dalam film seri Sliders, digambarkan bahwa Mallory Quin bisa menemukan cara agar manusia yang melewati wormhole itu tidak hancur lebur oleh energi gravitasi.

Dunia Paralel: Masa Depan, Kini atau Lampau
Apakah dunia paralel ini sama dengan masa lalu atau masa depan? Bagi yang gemar menonton film seri Sliders mungkin pernah menyaksikan sejumlah episode yang menggambarkan mereka berjalan ke masa lalu atau ke masa depan. Dalam konsep dunia paralel ini bisa dibenarkan, karena beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa dunia paralel juga mengenal masa lalu, masa kini dan masa depan.

Ada sebuah logika yang meski menarik tapi agak njlimet dan kejam untuk menjawab pertanyaan ini yang dikenal dengan istilah "The Grandfather Paradox". Logikanya kurang lebih begini:

Jika seseorang -katakanlah si A- punya kemampuan kembali ke masa lalu tepatnya ke masa kecil kakeknya, lantas disana ia membunuh sang kakek, maka secara logika si A jelas tak akan pernah ada di dunia, karena kakeknya sudah mati, sehingga ayahnya tak bisa dilahirkan dan pada gilirannya si A pun tak bisa dilahirkan.

Tapi jika si A tak dilahirkan, maka si A tak akan bisa kembali ke masa lalu dan membunuh kakeknya saat ia masih kecil. Dengan demikian, kakeknya akan terus hidup, lantas ayah si A pun akan hidup, dan si A akan lahir di dunia. Dan jika si A ada di dunia, maka ia pun akan bisa kembali ke masa lalu untuk membunuh kakeknya... dan demikian logika ini akan terus berputar-putar.

Lain cerita jika si A menggunakan jembatan Einstein-Rosen untuk kembali ke masa lalu, ke masa kecil kakeknya, Ia akan bisa membunuh si kakek, sementara dirinya tetap ada di dunia. Mengapa demikian? Tidak lain karena jembatan Einstein-Rosen akan membawanyanya ke masa lalu di dunia paralel, bukan di dunianya sendiri. Jika di sana si A membunuh kakeknya, maka si A akan menyebabkan dirinya atau 'kembarannya' di dunia paralel untuk tidak lahir. Namun si A sendiri tetap akan hidup karena mereka berada di dunia paralel yang berbeda.

Inilah konsep perjalanan antar waktu yang dipercaya oleh Albert Einstein bisa dilakukan, jika manusia mampu mencapai kecepatan tertentu atau menciptakan energi tertentu yang sanggup membuka wormhole.

Dunia Paralel: Nyata atau Fiksi?
Adakah dunia paralel ini nyata? Sampai sekarang tak ada yang bisa menjawab secara pasti. Dunia paralel memang bisa dibuktikan secara perhitungan matematis, tapi belum ada yang berhasil membuktikannya secara kongkrit, meski tak sedikit yang sudah mencoba.

Namun demikian, pada tahun 1995, seorang peneliti bernama David Raub pernah membuat semacam survey terhadap 72 fisikawan dunia. Hasilnya, 58 persen dari para fisikawan kondang itu percaya bahwa dunia paralel memang ada (diantara yang percaya termasuk pula fisikawan terkenal Stephen Hawking). 13 persen lainnya percaya pada kemungkinan adanya dunia paralel namun belum yakin benar. Sementara mereka yang tak percaya hanya 18 persen dan yang tidak mau memberi jawaban ada 11 persen.

Sekali lagi, dunia paralel ini masih belum terbukti dan masih berwujud konsep hasil perhitungan matematis para ahli. Toh kalau dilihat dari sisi lain, dunia paralel ini justru menunjukkan kebesaran Tuhan dalam menciptakan dunia yang ternyata tidak sesederhana yang selama ini kita pikir. Agaknya perlu pula dicatat adanya sejumlah ahli tafsir yang menemukan bahwa jauh sebelum Einstein muncul dengan konsep black hole atau lubang hitam serta serta wormhole bahkan teorinya yang terkenal yakni Big Bang, Kitab Suci Al Qur'an telah menyinggung soal hal ini dalam salah satu ayatnya. Lagi-lagi satu bukti kebesaran Tuhan.

Memang ahli tafsir bisa saja salah. Tapi paling tidak konsepsi dunia paralel ini juga menunjukkan betapa luar biasanya ciptaan Tuhan yang bernama manusia yang dengan pikirannya semata mampu mengeksplorasi alam ciptaan-Nya.

(Dari Geocities.com)

ABAD RUANG ANGKASA

"Biip... Biip... Biip..." dan Mulailah Abad Ruang Angkasa

Sputnik 1, satelit buatan pertama yang diluncurkan pada pukul 01.28, 5 Oktober 1957 dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan, hanya benda berbentuk bola dengan garis tengah sekitar 60 sentimeter.

Satelit tersebut untuk ukuran sekarang amat primitif. Ada banyak mahasiswa yang secara rutin membuat dan meluncurkan wahana angkasa yang jauh lebih canggih. Namun, arti Sputnik melewati sosok dan misinya yang sederhana. Sputnik bahkan melewati geopolitik yang ada pada waktu itu. Sputnik, demikian tulis Anthony Velocci (Aviation Week & Space Technology, 19-26 Maret 2007), meluncurkan abad ruang angkasa dan membawa manusia ke arah baru eksplorasi ilmiah baru dan penemuan kosmos.

Ketika roket R-7, yang juga berperan sebagai roket balistik antarbenua (ICBM), mendorong Sputnik untuk menaklukkan gravitasi Bumi, terus menanjak ke atas atmosfer, dan akhirnya tiba di orbit, tembuslah gerbang menuju ke dimensi baru pengalaman manusia. Orang, tulis John Noble Wilford (IHT, 26/9), kini bisa melihat kaumnya sebagai pengelana antariksa. Mobilitas lebih tinggi tersebut diharapkan akan bisa membebaskan, seperti halnya langkah tegak nenek moyang manusia pertama pada masa lalu.

Namun, reaksi pertama yang muncul justru mencerminkan kekhawatiran dunia yang pada saat itu sedang berada di pusaran Perang Dingin. Sputnik serta-merta mengubah ciri dan lingkup Perang Dingin.

Kembali ke sosoknya, orang wajar tak habis pikir, bagaimana bola seberat 83 kilogram dengan permukaan terbuat dari aluminium mengilat ini bisa menimbulkan efek yang demikian dahsyat. Sputnik alat sederhana, ia dilengkapi dua pemancar radio dengan antena mencuat yang memancarkan sinyal pada frekuensi yang bisa ditangkap oleh ilmuwan dan operator radio serta dengan itu meneguhkan prestasi yang dicapai.

Kuat dugaan bahwa Rusia menginginkan Sputnik sebagai pernyataan akan kehebatan teknologinya dan seiring dengan itu juga mengingatkan pihak lain akan implikasi militer kemampuan tersebut. Yang menarik, pihak Rusia sendiri tampaknya juga tidak menyangka bahwa Sputnik akan menimbulkan kepanikan luar biasa di AS. Ibaratnya, tidak ada peristiwa semenjak serangan Jepang ke Pearl Harbor yang menimbulkan reaksi seperti Sputnik. Demikian ujar Walter McDougall, sejarawan di Universitas Pennsylvania.

Krisis kepercayaan
Suara "biip... biip... biip..." Sputnik ternyata bisa membuat kebanggaan dan kepercayaan diri bangsa Amerika runtuh. Apakah kemakmuran telah membuat Amerika jadi lembek? Apakah sistem pendidikan tidak memadai, khususnya dalam mendidik ilmuwan dan insinyur? Apakah institusi demokrasi liberal tidak bisa mengimbangi masyarakat Komunis yang otoriter? Itulah sederet pertanyaan yang sempat muncul. Yang dianggap lebih menyakitkan, bangsa Amerika menganggap teknologi yang digunakan pada Sputnik sesungguhnya lebih merupakan keunggulan mereka?

Guncangan akibat Sputnik 1 belum usai, Uni Soviet meluncurkan Sputnik 2 pada 3 November 1957. Peluncuran kali ini dengan membawa seekor anjing bernama Laika, makhluk hidup pertama di angkasa, sambil memperingati Ulang Tahun Ke-40 Revolusi Bolshevik.

Ringkas kata, dengan peluncuran dua Sputnik, bangsa Amerika merasa telah dikalahkan dalam "lomba ruang angkasa". Amerika lalu berpaling kepada Eisenhower yang sudah mereka anggap sebagai bapak bangsa untuk tampil sebagai pemimpin. Sayangnya, Eisenhower yang menang meyakinkan untuk jabatan kedua tahun 1956 justru merupakan satu dari sedikit orang Amerika yang tidak panik atas sukses Sputnik. (Cold War, Jeremy Isaacs & Taylor Downing, 1998).

Namun, AS terbukti tidak runtuh sepenuhnya walaupun upaya untuk "menebus kekalahan" tidak mulus. Dua bulan setelah peluncuran Sputnik, AS?yang juga memiliki sejumlah program rudal balistik?mencoba membalas. Pada 6 Desember 1957, dengan disaksikan banyak orang di Tanjung Canaveral, Florida, roket Vanguard siap meluncur dengan mengangkut satelit mungil dengan berat kurang dari 2 kilogram. Namun, roket hanya naik sampai 0,5 meter, lalu merosot, dan meledak. Bangsa pun malu berat. Koran Daily Herald di Inggris mengolok-olok "Oh, What A Flopnik!", meminjam akhiran Sputnik, tetapi kali ini untuk yang gagal.

Dengan itu, AS bukan hanya merasa gagal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi sekaligus merasa begitu terancamnya secara militer. Harian The Washington Post menulis, "AS dalam posisi paling gawat dalam sejarahnya", dan Amerika kini menjadi "kekuatan kelas dua".

Reaksi positif
Gagal dengan Vanguard, AS melanjutkan upaya menebus kekalahan dengan lebih sistematik. Departemen Pertahanan mempercepat program pengembangan rudal. Kongres membentuk Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). AS sendiri terus menggemakan isu "kesenjangan rudal", yang lalu dibawa dalam kampanye pemilihan presiden. Isu ini pula yang diyakini ikut berperan dalam kemenangan tipis John F Kennedy. Namun, tidak lama setelah ia jadi presiden, Rusia masih membukukan prestasi gemilang. Pada April 1961 Yuri Gagarin diluncurkan ke orbit, menjadikannya manusia pertama yang mengorbit Bumi.

Setelah konsultasi selama beberapa minggu, Kennedy berpidato di depan Kongres dan mencanangkan bahwa sebelum berakhirnya dekade (1960-an) bangsa Amerika harus sudah menapakkan kaki di Bulan dan kembali ke Bumi dengan selamat.

Prelude bagi pencapaian besar dimulai ketika Apollo 8 berhasil mengitari Bulan sebanyak 10 kali pada Desember 1968. Para astronotnya untuk pertama kali melihat bulatan Bumi berwarna kebiruan dengan lilitan awan putih dari jendela kapsul. Akhirnya tiba puncak bersejarah itu, ketika pada 20 Juli 1969, Neil Armstrong menjejakkan kakinya di permukaan Bulan, lalu membuat "langkah kecil bagi manusia, tetapi lompatan raksasa bagi kemanusiaan".

Apollo 11 membuat AS seperti membayar tunai utang dalam lomba ruang angkasa dengan Uni Soviet. Program Apollo total mendaratkan 10 astronot Amerika di Bulan dan setelah Apollo 17 pada tahun 1972, tidak ada lagi manusia yang pergi ke Bulan.

Namun, baik Amerika maupun Rusia tetap mengirimkan wahana antariksa, dan juga antariksawan ke ruang angkasa, meski dengan laju lebih lambat. AS mencurahkan sebagian besar dananya untuk mewujudkan program ulang alik, program yang di antara suksesnya meninggalkan goresan mendalam dengan meledaknya pesawat Challenger, 28 Januari 1986, dan berikutnya Columbia pada 1 Februari 2003.

"The last frontier"
Sputnik dipandang dari sisi lain telah memicu manusia untuk segera merambah ruang angkasa, wilayah yang kemudian disebut sebagai perbatasan terakhir (the last frontier), setelah darat, laut, dan udara.

Pada satu sisi, perjalanan angkasa tampak sudah jadi hal rutin, lebih-lebih dengan adanya program Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS). Bahkan, di luar program negara, kini juga telah berkembang turisme angkasa, setelah Rusia membuka peluang bagi mereka yang siap membayar ongkos 20 juta dollar AS, atau sekitar Rp 180 miliar. Selain itu, ada juga perusahaan swasta yang menyiapkan wisata angkasa, seperti Virgin Galactic yang dimotori oleh pengusaha Richard Branson dan Burt Rutan yang sudah berhasil mengembangkan wahana SpaceShip One. Perusahaan riset Futron memperkirakan pada tahun 2021 akan ada 14.000 turis angkasa setahunnya, memunculkan pendapatan sebesar 700 juta dollar AS (Tourists Race for Space, and Investors are Ready, IHT, 17/9).

Dalam perkembangan berikut, bukan hanya Rusia dan AS yang mendominasi ruang angkasa. China, yang setelah berhasilmeluncurkan antariksawannya?Yang Liwei?dengan wahana Shenzou 5, 15 Oktober 2003, kini mempersiapkan stasiun ruang angkasa.

Eksploitasi ruang angkasa juga dilakukan oleh Eropa (dengan Perancis sebagai motor utamanya), yang kini sukses mengomersialkan roket Ariane-nya, lalu juga India yang banyak menggunakan satelit untuk memacu program pendidikan. Di luar itu masih ada Jepang, yang 13 September lalu meluncurkan wahana Kaguya untuk meneliti Bulan. Negara lain seperti Kanada memang tidak membuat roket, tetapi termasuk pionir dalam satelit dan kontributor penting dalam program ulang alik AS melalui lengan robotik Canadarm. Israel bisa ditambahkan di sini karena sejak tahun 1988 telah menggunakan roket Shavit untuk mengorbitkan satelit mata-mata militer.

Kini, di tengah makin sumpeknya Bumi karena pemanasan global dan polusi, bangsa maju melihat ruang angkasa sebagai alternatif hunian. Tak heran bila futuris melihat koloni ruang angkasa sebagai gelombang peradaban berikut.

Untuk semua itu, "biip... biip... biip..." Sputnik besar pengaruhnya.

(Dari Kompas Cyber Media / Penulis: Ninok Leksono)